TANJUNG REDEB – Lonjakan kunjungan wisatawan ke sejumlah kampung wisata di Kabupaten Berau saat musim liburan menjadi berkah bagi sektor pariwisata.
Namun di sisi lain, tingginya aktivitas wisatawan juga memunculkan tantangan baru, khususnya pada kualitas layanan internet di kawasan wisata.
Meningkatnya jumlah pengguna dalam waktu bersamaan kerap membuat jaringan internet melambat. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan wisatawan, tetapi juga berdampak terhadap pelayanan administrasi pemerintahan di tingkat kampung yang memanfaatkan jaringan internet untuk menjalankan berbagai layanan publik.
Menyikapi persoalan tersebut, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Berau memastikan akan terus melakukan peningkatan kapasitas infrastruktur digital di kampung-kampung wisata agar aktivitas masyarakat, pelayanan pemerintahan, maupun kebutuhan wisatawan tetap dapat berjalan optimal.
Kepala Diskominfo Berau, Didi Rahmadi, menjelaskan bahwa perlambatan jaringan bukan disebabkan minimnya kapasitas internet untuk kebutuhan pemerintahan. Menurutnya, bandwidth yang tersedia sejatinya telah memenuhi kebutuhan operasional kantor kampung.
“Kami sudah melakukan uji coba. Dengan kapasitas 5 Mbps saja sebenarnya sudah sangat memadai untuk kegiatan administrasi kampung, seperti upload maupun download berkas,” ujarnya.
Namun, situasi berubah drastis ketika memasuki musim liburan. Ribuan wisatawan yang datang secara bersamaan menggunakan jaringan internet untuk berbagai aktivitas digital dengan konsumsi data yang jauh lebih besar dibanding kebutuhan administrasi pemerintahan.
Aktivitas seperti menonton video di platform streaming, mengunggah konten ke media sosial, hingga melakukan siaran langsung membuat penggunaan bandwidth meningkat tajam dalam waktu singkat.
“Tapi kalau untuk YouTube, nah ini yang jadi masalah ketika semua orang menggunakan YouTube,” jelas Didi.
Selain tingginya trafik internet, Diskominfo juga menghadapi kendala infrastruktur pendukung di beberapa kampung wisata. Hingga saat ini, sejumlah perangkat pemancar internet masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga surya (solar cell), sehingga pasokan daya belum sepenuhnya stabil.
Menurut Didi, pihaknya telah berkoordinasi dengan PT PLN agar ke depan jaringan internet dapat didukung oleh pasokan listrik yang lebih andal.
“Memang di beberapa kampung itu masih menggunakan solar cell. Kami sudah berkoordinasi dengan PLN terkait hal tersebut,” katanya.
Sebagai langkah jangka pendek, Diskominfo Berau memutuskan meningkatkan kapasitas bandwidth internet di kampung-kampung wisata secara signifikan pada tahun ini.
Jika sebelumnya kapasitas jaringan hanya berkisar 5 Mbps, kini bandwidth ditingkatkan menjadi 30 Mbps agar mampu mengakomodasi lonjakan pengguna saat musim liburan.
“Nah, tahun ini mulai ditambah menjadi 30 Mbps. Kami berharap tidak ada lagi keluhan,” ungkapnya.
Menurut Didi, kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Keluhan masyarakat terkait jaringan internet yang lambat mengalami penurunan cukup signifikan dibanding beberapa tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah sekarang keluhan terkait internet sudah sangat berkurang. Kalau dulu hampir setiap hari kami dihubungi karena internet lelet,” tuturnya.
Meski demikian, Diskominfo mengakui tantangan untuk menghadirkan jaringan internet yang benar-benar stabil di kawasan wisata masih belum sepenuhnya teratasi. Solusi permanen masih terkendala oleh pembagian kewenangan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat, terutama dalam pembangunan menara Base Transceiver Station (BTS).
Selain itu, penambahan kapasitas bandwidth secara terus-menerus juga membutuhkan dukungan anggaran yang tidak sedikit, sementara pemerintah daerah saat ini tengah melakukan efisiensi belanja.
“Kalau pembangunan BTS itu sudah menjadi kewenangan pemerintah pusat. Sementara kalau menambah bandwidth berarti juga harus menambah anggaran, sedangkan sekarang kita sedang melakukan efisiensi,” pungkasnya.

