BERAU – Upaya panjang menjaga keberlangsungan penyu hijau di Kabupaten Berau kembali tercoreng. Satwa yang menjadi maskot pariwisata daerah itu terganggu setelah beredar video sejumlah pemuda yang menunggangi penyu hijau di Pulau Derawan.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur Seksi Wilayah I Berau pun angkat bicara dan menyesalkan aksi tersebut. Kepala BKSDA SKW I Berau, Yulian Sadono, menyebut perbuatan itu menunjukkan rendahnya kesadaran terhadap satwa yang dilindungi.
“Kami sangat menyayangkan perbuatan itu. Apalagi penyu hijau merupakan satwa yang kami lindungi dan menjadi fokus konservasi di Berau,” tegasnya.
Ia menjelaskan, wilayah kerja BKSDA Berau memiliki dua lokasi penting tempat penyu hijau bertelur, yakni Suaka Margasatwa (SM) Semama dan Taman Wisata Alam (TWA) Sangalaki. Program konservasi dilakukan melalui relokasi telur, penetasan, hingga pelepasliaran anak penyu ke laut.
Menurutnya, tindakan mengganggu satwa jelas berlawanan dengan upaya pelestarian. Untuk itu, pihaknya segera berkoordinasi dengan Kepala Kampung Derawan dan UPTD Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Derawan untuk menelusuri asal lokasi kejadian serta langkah penanganannya.
Meski kewenangan biota laut kini berada di Kementerian Kelautan dan Perikanan, BKSDA tetap terlibat dalam pembinaan. Ia menegaskan, penanganan kasus ini penting agar tidak menimbulkan citra buruk bagi daerah.
“Penyu hijau adalah maskot Kabupaten Berau sekaligus andalan pariwisata. Jangan sampai tindakan tidak bertanggung jawab seperti ini merusak nama baik daerah dan mengganggu upaya pelestarian,” pungkasnya. (srn/dez)
Reporter: Sahruddin
Editor: Dezwan

