BERAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) terus memperkuat komitmen dalam pelestarian lingkungan pesisir.
Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui kegiatan penanaman 500 pohon mangrove di kawasan De’Mangroop, Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara DLHK Kabupaten Berau, Pemerintah Kampung Dumaring, PT Tanjung Buyu Perkasa Plantation, serta PLTD Sambaliung. Sinergi lintas sektor tersebut menjadi wujud nyata kepedulian bersama dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan memperkuat tutupan lahan hijau di wilayah Bumi Batiwakkal.
Kepala DLHK Berau, Mustakim Suharjana, melalui Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Ida Ayu, menyampaikan bahwa penanaman mangrove ini merupakan bagian dari program strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas lingkungan hidup, khususnya di kawasan pesisir.
“Kegiatan penanaman mangrove ini menunjukkan upaya serius pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya wilayah pesisir Kecamatan Talisayan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kabupaten Berau memiliki kekayaan ekosistem mangrove yang sangat besar, dengan luas mencapai sekitar 85 ribu hektare. Luasan tersebut menjadi aset ekologis penting yang tidak hanya berfungsi sebagai pelindung alami garis pantai, tetapi juga sebagai penyerap karbon dan penyangga kehidupan berbagai biota laut.
Namun demikian, sejumlah wilayah pesisir masih menghadapi tantangan kerusakan lingkungan. Di Kampung Dumaring sendiri, kawasan mangrove tercatat seluas 447 hektare, dengan sekitar 47 hektare mengalami kerusakan akibat abrasi.
“Kondisi ini menjadi perhatian bersama. Penanaman mangrove di Dumaring sangat strategis untuk menekan laju abrasi sekaligus memulihkan fungsi ekologis kawasan pesisir,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan mangrove memiliki manfaat ekologis dan ekonomis yang besar. Selain melindungi pantai dari gelombang dan intrusi air laut, mangrove juga menjadi habitat penting bagi ikan, udang, dan kepiting yang menjadi sumber penghidupan masyarakat nelayan setempat.
“Kawasan mangrove memiliki manfaat ekologis dan ekonomis yang sangat besar bagi masyarakat. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal keberlanjutan ekonomi warga pesisir,” ucapnya.
DLHK Berau pun mengapresiasi dukungan sektor swasta dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan tersebut. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah kampung, dan dunia usaha dinilai sebagai kunci utama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
“Kesuksesan menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Sinergi dengan masyarakat dan dunia usaha sangat penting untuk menjaga kelestarian Bumi Batiwakkal,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penanaman mangrove bukanlah akhir dari upaya pelestarian. Perawatan dan pemantauan bibit yang telah ditanam menjadi faktor penting agar tanaman dapat tumbuh optimal dan memberikan manfaat jangka panjang.
“Kami berharap bibit yang sudah ditanam dapat terus dipantau dan dirawat oleh kelompok masyarakat serta pendamping lingkungan. Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.

