SLB Berau Overkapasitas, Puluhan Anak Berkebutuhan Khusus Gagal Sekolah

BERAU – Di tengah semangat para orang tua yang berlomba mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah terbaik, nasib berbeda justru dialami anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kabupaten Berau. Satu-satunya Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada di Jalan Durian II, Tanjung Redeb, kini tidak lagi mampu menampung murid baru untuk tahun ajaran 2025/2026.

Kondisi ini diungkapkan oleh Ketua Forum Peduli ABK Berau, Agustam (Abi), yang juga merupakan salah satu pengajar di SLB tersebut. Dalam rapat bersama Pemerintah Kabupaten Berau pada Kamis (24/7/2025), ia menyampaikan bahwa terdapat sekitar 20 calon siswa ABK yang terpaksa ditolak, meskipun mereka sangat membutuhkan pendidikan khusus.

“Bahkan tahun ini kami menolak siswa baru karena mereka mendaftar di luar waktu pendaftaran. Jumlahnya sekitar 20 anak. Lantas, bagaimana nasib mereka? Akan bersekolah di mana mereka?” ujar Abi dengan nada prihatin.

Abi menjelaskan, saat ini SLB Berau sudah dalam kondisi overkapasitas dengan jumlah murid mencapai 250 siswa, sementara jumlah guru hanya 14 orang. Kondisi ini menyebabkan satu guru harus menangani lebih dari 20 siswa, jauh dari standar ideal, yaitu satu guru untuk 3 hingga maksimal 8 siswa ABK.

“Inilah alasan utama kami tidak bisa lagi menerima murid baru maupun murid pindahan dari sekolah umum. Bukan karena tidak mau, tapi memang kami sudah tidak sanggup secara kapasitas,” ujarnya.

Ia juga menyoroti fenomena umum di mana orang tua baru menyadari kebutuhan khusus anaknya setelah beberapa bulan di sekolah umum, lalu mencoba memindahkan ke SLB. Namun, kini, dengan keterbatasan ruang dan tenaga pengajar, SLB tidak lagi menerima murid pindahan.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan masa depan pendidikan anak-anak ABK di Berau. Abi pun mendesak Pemerintah Kabupaten Berau untuk segera mengambil langkah konkret dan strategis, mengingat pembangunan sumber daya manusia berkualitas—termasuk bagi anak-anak disabilitas—selalu menjadi prioritas dalam visi misi daerah.

“Hampir di semua TK di Berau sekarang ada anak ABK, bahkan 3 sampai 5 anak per sekolah. Ini artinya jumlah ABK terus meningkat, seiring kesadaran orang tua. Tapi sayangnya, fasilitas yang tersedia belum berkembang seiring kebutuhan,” jelasnya.

Abi menekankan pentingnya perhatian serius dari pemerintah daerah untuk membangun fasilitas yang memadai, tidak hanya sekolah, tetapi juga akses layanan kesehatan, pendampingan psikologis, dan sistem pendidikan yang inklusif.

“Kita butuh solusi nyata. Jangan sampai anak-anak ABK ingin sekolah tapi tak punya tempat. Ini tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. (ril/dez)

Reporter: Aril Syahrulsyah
Editor: Dezwan

BERITA POPULER