BERAU – Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-72 Kabupaten Berau dan HUT ke-215 Kota Tanjung Redeb tahun 2025 dipastikan tidak berlangsung semeriah tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah agenda besar yang biasanya menjadi daya tarik utama, terpaksa ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.
Mayoritas kegiatan yang melibatkan keramaian ditiadakan, mengikuti instruksi Kementerian Dalam Negeri kepada seluruh kepala daerah agar menunda kegiatan seremonial yang dianggap hanya menghabiskan anggaran.
Salah satu agenda yang paling disayangkan masyarakat adalah ditiadakannya lomba perahu panjang, yang selama ini selalu menjadi ikon perayaan. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Berau, Amiruddin, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak masuk dalam perayaan tahun ini.
“Selain karena instruksi itu, kegiatan perahu panjang juga tidak teranggarkan di Dispora dan sudah dibahas bersama Forkopimda,” jelasnya.
Ia menambahkan, belum adanya komunitas resmi atau kepengurusan legal yang menaungi perahu panjang menjadi alasan lain kegiatan ini tidak bisa difasilitasi pemerintah. Menurutnya, jika dipaksakan masuk anggaran, hal itu berpotensi menimbulkan masalah hukum di kemudian hari.
“Kalau sudah punya kepengurusan legal, baru bisa dianggarkan. Kalau belum ada, kami tidak berani. Cabor yang mati SK-nya saja tidak kami anggarkan, apalagi yang tidak ada pengurusnya,” tegasnya.
Untuk tahun ini, hanya tiga kegiatan yang tetap digelar, yakni upacara hari jadi, rapat paripurna DPRD, serta tabligh akbar. Sementara acara lain seperti Manutung Jukut, karnaval budaya, hingga lomba perahu panjang resmi ditunda.
Keputusan ini memantik kekecewaan masyarakat. Ketua Mayang Santana Perahu Panjang, Masrani, menyebut absennya lomba tersebut membuat perayaan tahun ini terasa hambar.
“Lomba perahu panjang seharusnya tetap jadi acara utama. Sejak dulu kegiatan ini rutin digelar dan selalu menjadi magnet bagi ribuan warga untuk berkumpul di tepian Sungai Segah,” ucapnya.
Masrani menilai, lebih dari sekadar hiburan rakyat, lomba perahu panjang sarat nilai budaya, kebersamaan, serta identitas lokal yang membedakan Berau dengan daerah lain.
Ia berharap, pemerintah daerah dapat mempertimbangkan kembali agar tradisi perahu panjang kembali masuk dalam agenda resmi perayaan tahun mendatang.
“Kalau ada lomba perahu panjang, sungai sekitar Tanjung Redeb pasti ramai sekali. Semua orang berkumpul, bukan hanya menonton, tapi juga bersilaturahmi. Itu yang kami rindukan,” pungkasnya. (ril/dez)
Reporter: Aril Syahrulsyah
Editor: Dezwan

