Rumah Kesenian Batiwakkal Belajar Pembuatan Jatung Utang di Kukar, Perkuat Pelestarian Budaya

BERAU – Komitmen melestarikan alat musik tradisional terus ditunjukkan Rumah Kesenian Batiwakkal. Organisasi seni asal Kabupaten Berau ini melakukan kunjungan studi ke Rumah Produksi Kerajinan Alat Musik Tradisi Ardi Laras di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang dikenal sebagai salah satu produsen alat musik tradisional terkemuka di Kalimantan Timur.

Rombongan disambut langsung oleh pemilik Rumah Produksi Ardi Laras, Supian Tarmidi, yang akrab disapa Pak Om. Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Supian menyampaikan apresiasi atas kesungguhan generasi muda Berau yang menaruh perhatian pada pelestarian alat musik tradisional.

“Pada dasarnya saya sangat mengapresiasi niat baik Rumah Kesenian Batiwakkal untuk tetap berjalan di jalur ini sebagai pengrajin alat musik tradisional. Harus yakin bahwa jalan yang dipilih ini adalah jalan yang tepat dan bermanfaat,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar komunitas tersebut terus merangkul anak-anak muda yang memiliki minat serupa. Menurutnya, tidak perlu banyak orang, namun harus memiliki hati dan tujuan yang sama dalam menjaga warisan budaya.

“Jangan lupa bersilaturahmi dengan orang tua dan budayawan yang lebih dulu memahami alat musik tradisional. Dari merekalah kita menambah wawasan dan ilmu. Itu yang paling penting,” tambahnya.

Supian mengaku bangga melihat semangat generasi muda yang serius menekuni kerajinan alat musik tradisional di tengah arus modernisasi saat ini. Ia menilai langkah Rumah Kesenian Batiwakkal yang datang langsung untuk belajar merupakan sikap yang tepat dalam membangun jaringan sekaligus memperdalam pengetahuan.

“Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi manfaat bagi banyak orang dan menjadi bagian dari pelestarian budaya Indonesia, khususnya di daerah kalian,” tuturnya.

Dalam kunjungan tersebut, Rumah Produksi Ardi Laras memberikan edukasi mendalam tentang pembuatan jatung utang, alat musik tradisional masyarakat Dayak di Kalimantan. Instrumen berbahan kayu ini dimainkan dengan cara dipukul dan memiliki bentuk yang sekilas menyerupai gambang.

Para peserta mendapatkan pembelajaran teknis secara langsung, mulai dari pengenalan bahan dan pemilihan jenis kayu yang sesuai, proses pemotongan kayu secara manual, hingga perhitungan ukuran awal menggunakan rumus tertentu agar menghasilkan nada yang tepat.
Tak hanya itu, mereka juga diajarkan cara menaikkan dan menurunkan nada pada bilah kayu dengan patokan alat tuner, serta teknik produksi jika alat musik dibuat dalam skala lebih banyak.

Founder Rumah Kesenian Batiwakkal, Hidayatullah, menyampaikan terima kasih atas sambutan dan ilmu yang diberikan oleh Rumah Produksi Ardi Laras. Menurutnya, kunjungan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kapasitas kader muda di Berau.

“Menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan bunyi dan bentuknya, tetapi menyiapkan generasi yang memahami proses dan maknanya. Karena itu kader-kader muda harus dibekali kemampuan membuat alat musik tradisional secara langsung,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sistem pelatihan pembuatan alat musik tradisional tidak bisa dilakukan secara singkat. Idealnya, pelatihan berlangsung minimal satu minggu penuh agar peserta benar-benar memahami seluruh proses dari awal hingga akhir.

Jika diperlukan, Rumah Kesenian Batiwakkal siap menghadirkan Supian ke Berau untuk memberikan pelatihan intensif di Bumi Batiwakkal. Namun, hal tersebut tentu membutuhkan dukungan berbagai pihak, baik pemerintah maupun pemerhati budaya.

“Alhamdulillah, Pak Supian sangat terbuka dan siap berbagi ilmu karena melihat keseriusan kami yang datang jauh-jauh dari Berau untuk belajar secara mandiri,” jelas Hidayatullah.

Selain mengunjungi Rumah Produksi Ardi Laras, rombongan juga menyempatkan diri berkunjung ke Museum Mulawarman di Tenggarong, Kukar. Museum yang menjadi pusat pelestarian sejarah dan budaya tersebut menyimpan lebih dari 5.570 koleksi, termasuk singgasana kerajaan, patung Lembuswana, serta berbagai peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Rumah Kesenian Batiwakkal berharap mampu memperkuat ekosistem pelestarian seni tradisional di Berau, sekaligus menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya mampu memainkan, tetapi juga memproduksi dan memahami filosofi alat musik tradisional daerah.

“Kunjungan ke Rumah Produksi dan museum ini menjadi pelengkap perjalanan edukatif bagi kami dalam memperkaya pemahaman mereka terhadap akar sejarah dan budaya Kalimantan Timur,” pungkasnya. (Ril)

BERITA POPULER