Posyandu Jadi Kunci, Berau Genjot Partisipasi Ibu dan Balita Tekan Stunting

BERAU – Di balik lonjakan capaian penanganan stunting yang membawa Kabupaten Berau menembus tiga besar, masih tersisa pekerjaan rumah besar yang kini menjadi fokus utama pemerintah daerah.

Pekerjaan rumah tersebut adalah meningkatkan partisipasi masyarakat, khususnya ibu hamil dan ibu dengan anak usia di bawah dua tahun, dalam layanan posyandu.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, menegaskan bahwa keberhasilan yang diraih saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kemenangan di lapangan. Menurutnya, kehadiran kelompok sasaran utama dalam kegiatan posyandu justru menjadi faktor penentu keberlanjutan penurunan angka stunting.

“Kalau mereka tidak datang ke posyandu, kita akan kesulitan melakukan deteksi dini. Padahal di situlah awal dari pencegahan stunting,” ujarnya.

Ia menjelaskan, posyandu merupakan garda terdepan dalam memantau tumbuh kembang anak sekaligus memberikan intervensi awal bagi ibu hamil dan balita. Namun, masih ditemukan rendahnya tingkat kehadiran di sejumlah wilayah, yang berpotensi menghambat efektivitas program.

Padahal, dalam beberapa waktu terakhir, Kabupaten Berau mencatat kemajuan signifikan dalam upaya penanganan stunting. Dari posisi terbawah, kini Berau berhasil melesat ke tiga besar—sebuah capaian yang disebut Gamalis sebagai hasil kerja kolektif lintas sektor.

Mulai dari pemerintah daerah, kecamatan, kampung, tenaga kesehatan, hingga masyarakat dan media disebut memiliki peran penting dalam mendorong perubahan tersebut.

“Ini bukan kerja satu dua orang. Semua terlibat. Kita bergerak bersama,” tegasnya.

Selain partisipasi masyarakat, faktor lain yang turut mendorong keberhasilan adalah pembenahan sistem pendataan. Dengan data yang lebih akurat, pemerintah mampu menyusun program yang lebih tepat sasaran.

Sejumlah kecamatan seperti Derawan, Sambaliung, dan Talisayan bahkan telah menunjukkan capaian input data di atas 80 persen. Sementara wilayah lainnya juga mulai menunjukkan tren peningkatan.

Namun demikian, Gamalis mengingatkan bahwa data dan program yang baik tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan kehadiran masyarakat di lapangan.

“Program sudah ada, data sudah jelas. Tinggal bagaimana kita memastikan masyarakat ikut berpartisipasi aktif,” katanya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemkab Berau berencana memperkuat pendekatan di tingkat kampung, termasuk meningkatkan peran kader posyandu dan tenaga kesehatan dalam melakukan edukasi langsung kepada masyarakat.

Selain itu, sinergi lintas sektor juga terus diperkuat, mulai dari perencanaan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), penganggaran, hingga implementasi program agar berjalan selaras.

Dengan capaian yang telah diraih, Berau kini tidak hanya fokus mempertahankan posisi di tiga besar, tetapi juga menargetkan posisi puncak. Namun, Gamalis menekankan bahwa kunci untuk mencapai target tersebut tetap berada pada partisipasi aktif masyarakat.

“Kalau kita ingin lebih baik lagi, maka keterlibatan masyarakat harus lebih kuat. Dari situlah perubahan besar bisa benar-benar terjadi,” pungkasnya. (ril)

BERITA POPULER