PMI Berau Perketat Skrining, Darah Tak Layak Pakai Dimusnahkan

BERAU – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Berau secara rutin memusnahkan sejumlah kantong darah pendonor yang dinyatakan tidak layak pakai setelah melalui proses skrining laboratorium.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan keamanan darah sebelum ditransfusikan kepada pasien.

Penanggung Jawab Unit Donor Darah PMI Berau, dr. Andhika Amran, mengatakan bahwa setiap darah pendonor yang masuk ke PMI Berau wajib menjalani serangkaian pemeriksaan laboratorium berlapis.

Dari proses tersebut, sebagian darah dinyatakan reaktif dan harus dikeluarkan dari sistem pelayanan karena terindikasi mengandung penyakit menular berbahaya.

“Begitu hasil skrining menunjukkan reaktif, darah tersebut langsung kami keluarkan dari sistem dan dimusnahkan. Tidak ada kompromi, karena ini menyangkut nyawa pasien,” ujarnya.

Ia menuturkan, penyakit menular yang paling sering terdeteksi pada darah pendonor di Berau meliputi HIV, sifilis, serta hepatitis B dan C. Penyakit tersebut, kata dia, berpotensi menular melalui transfusi apabila tidak terdeteksi sejak awal.

Meski demikian, pihaknya menegaskan perannya terbatas pada skrining awal. PMI tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan diagnosis medis terhadap pendonor.

“Kami hanya menyampaikan bahwa hasilnya reaktif. Pendonor nanti akan dihubungi dokter secara personal dan diarahkan untuk pemeriksaan lanjutan. Untuk diagnosis tetap menjadi kewenangan tenaga medis,” jelasnya.

Berdasarkan data sepanjang 2025, jumlah darah reaktif di PMI Berau terbilang cukup signifikan. Para pendonor berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari masyarakat umum hingga pekerja perusahaan.

PMI menegaskan, temuan darah reaktif tidak pernah dikaitkan dengan profesi, status sosial, maupun kelompok tertentu.

“Penyakit menular bisa dibawa siapa saja tanpa disadari. Inilah alasan mengapa skrining ketat wajib dilakukan pada setiap pendonor, tanpa pengecualian,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia pun mengajak masyarakat untuk tetap aktif mendonorkan darah, namun disertai dengan kejujuran saat proses seleksi serta penerapan pola hidup sehat.

“Ini penting untuk menjaga ketersediaan darah sekaligus menjamin keamanan transfusi bagi seluruh pasien yang membutuhkan,” pungkasnya. (Srn)

BERITA POPULER