Perkebunan Sawit Berau Sumbang 7,66 Persen PDRB, Dinas Tekankan Aspek Keberlanjutan

BERAU – Sektor perkebunan di Kabupaten Berau terus memperkuat posisinya sebagai salah satu motor penggerak ekonomi daerah. Berdasarkan data terbaru, sepanjang tahun 2024, sektor ini menyumbang sebesar 7,66 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Berau.

Kontribusi tersebut merupakan bagian besar dari sektor pertanian secara keseluruhan, yang memberikan sumbangan sekitar 13 persen terhadap total PDRB daerah. Kenaikan ini terutama dipicu oleh melonjaknya harga komoditas kelapa sawit di pasar nasional hingga global.

“Kenaikan produksi dan harga komoditas berdampak langsung terhadap kontribusi pajak serta bagi hasil. Itu yang mendongkrak angka PDRB dari sektor perkebunan,” ujar Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini, Rabu (16/7/2025).

Meski sektor pertambangan masih mendominasi dengan menyumbang hampir 60 persen dari total PDRB, Lita optimistis bahwa sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, bisa terus tumbuh dan menjadi penyeimbang struktur ekonomi daerah dalam jangka panjang.

Di tengah tren positif tersebut, Dinas Perkebunan juga tidak menutup mata terhadap isu lingkungan yang kerap dikaitkan dengan ekspansi perkebunan sawit.

Lita menjelaskan bahwa dampak lingkungan dari pembukaan lahan sawit masih dapat dikendalikan, dan bahkan relatif lebih mudah dipulihkan dibandingkan dengan kerusakan akibat kegiatan pertambangan.

“Kalau sawit, dua sampai tiga tahun saja sudah tertutup vegetasi lagi. Jadi lebih cepat pulih,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa tanaman sawit memiliki akar serabut dalam yang membantu menyerap air dalam jumlah besar, sehingga berperan dalam mengurangi risiko banjir dan menjaga keseimbangan air tanah.

“Pohon sawit itu mampu menyerap air tinggi. Saat lahan sudah tertutup, air hujan bisa langsung masuk ke tanah tanpa menimbulkan genangan,” tambah Lita.

Selain itu, Dinas Perkebunan menegaskan pentingnya perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi, terutama di wilayah-wilayah yang masih memiliki tutupan hutan alami. Wilayah ini dinilai penting sebagai habitat satwa liar dan perlu dijaga agar tidak rusak akibat ekspansi perkebunan.

“Kalau area itu punya nilai konservasi tinggi, harus dilindungi. Bisa jadi itu rumah bagi satwa langka yang perlu kita jaga,” ujarnya.

Saat ini, dari total 35 izin usaha perkebunan yang tercatat di Berau, sebanyak 26 perusahaan telah aktif beroperasi. Menurut Lita, sebagian besar perusahaan langsung melakukan penanaman pasca pembukaan lahan, sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan vegetasi.

Lita berharap pertumbuhan sektor perkebunan dapat terus dipacu dengan pendekatan yang berkelanjutan, sehingga tidak hanya memberi dampak ekonomi tetapi juga tetap menjaga kualitas lingkungan hidup.

“Kita bisa manfaatkan sumber daya alam, tapi tanggung jawab terhadap lingkungan jangan sampai lepas,” pungkasnya. (ril/dez)

Reporter: Aril Syahrulsyah
Editor: Dezwan

BERITA POPULER