BERAU – Pasar Barambang, yang sempat vakum selama tujuh tahun, kini kembali beroperasi dan langsung menjadi magnet baru bagi pelaku UMKM serta masyarakat Kabupaten Berau.
Pasar Barambang yang berbeda di Kecamatan Gunung Tabur tersebut direncanakan hadir secara rutin setiap Sabtu dan Minggu malam.
Ketua Pengurus Pasar Barambang, Anang Saprani, menjelaskan bahwa pasar ini lahir dari kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang selama ini kekurangan ruang promosi dan penjualan.
“UMKM di Berau jumlahnya terus bertambah. Mereka butuh wadah yang konsisten, dan Pasar Barambang hadir sebagai ruang itu, sekaligus mendukung pariwisata daerah,” ujarnya.
Dijelaskannya, nama Barambang memiliki makna filosofis yang mencerminkan semangat pasar tersebut. Dalam bahasa lokal, Barambang berarti saling merangkul, simbol kebersamaan dan persatuan masyarakat.
“Dari saling merangkul itulah tercipta kekuatan bersama, tidak ada yang berjalan sendiri,” katanya.
Puluhan lapak UMKM, kata dia, menjajakan beragam kuliner khas Berau, seperti telinga sagai dan ancur padas, yang selama ini lebih dikenal sebagai sajian musiman.
“Ada panggung seni juga dengan pertunjukan budaya yang akan memperkuat identitas lokal pasar ini,” tuturnya.
Sementara itu, Panitia Penyelenggara Pasar Barambang, Mardiatul Idalisah, mengungkapkan bahwa antusiasme pengunjung sejak hari pertama terbilang tinggi. Bahkan, sejumlah pedagang mengaku dagangannya ludes sebelum malam berakhir.
“Sejak sore sudah ramai. Sampai malam, pengunjung terus berdatangan dan beberapa lapak cepat habis,” ungkapnya.
Ia menilai Pasar Barambang berpotensi memberi efek berganda bagi ekonomi masyarakat, termasuk sektor pendukung seperti jasa penyeberangan perahu dari Tanjung Redeb menuju Gunung Tabur.
“Kami berharap pasar ini mampu bertahan secara berkelanjutan dan menjadi agenda rutin yang dinanti masyarakat Berau,” pungkasnya. (Srn)


