BERAU – Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau, mengakui bahwa potensi kopi di Bumi Batiwakkal cukup menjanjikan meskipun saat ini masih dalam skala produksi kecil.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Disbun Berau, Lita Handini. Dikatakannya, meskipun potensinya sangat menjanjikan, namun pemberian bantuan dari pemerintah belum dapat direalisasikan karena terbentur regulasi.
Berdasarkan Peraturan Bupati Berau Nomor 37 Tahun 2022 tentang Tata Cara Penganggaran, Pelaksanaan, Penatausahaan, Pelaporan, Pertanggungjawaban, Monitoring, dan Evaluasi Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial dari APBD, bantuan hanya bisa diberikan kepada kelompok, bukan perorangan.
“Jadi harus ada kelompoknya dulu. Karena tidak bisa dibantu jika perorangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, beberapa daerah seperti Kampung Sambakungan, Talisayan, dan Pilanjau telah menunjukkan geliat budidaya kopi, terutama jenis Liberika. Bahkan, tidak menutup kemungkinan Berau bisa menjadi salah satu sentra kopi di Kalimantan Timur, melihat tingginya konsumsi kopi di masyarakat yang ditandai dengan banyaknya kedai dan warung kopi di berbagai wilayah.
“Di Tanjung Redeb saja sudah ada beberapa kafe dan warkop. Belum lagi di wilayah lainnya,” katanya.
Ia juga mengakui bahwa para petani kopi masih kekurangan alat produksi seperti mesin roster dan pengering. Selain itu, salah satu tantangan lain adalah persoalan legalitas lahan, di mana salah satu kebun kopi diketahui berada di jalur kawasan budidaya kehutanan (KBK) milik sebuah perusahaan batu bara.
“Kami tidak ingin ambil risiko. Jika ingin melanjutkan, sebaiknya bentuk kelompok dan bekerjasama dengan perusahaan tersebut, lalu ajukan bantuan. Kami akan follow up,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini banyak pelaku usaha kedai kopi di Berau yang masih harus memesan biji kopi dari luar daerah, dengan ongkos kirim yang tinggi. Padahal, kualitas kopi lokal sudah cukup baik, bahkan pernah mewakili Berau dalam ajang lomba dan meraih juara.
“Saya perhatikan, pengunjung kafe selalu penuh. Ini membuktikan banyak penikmat kopi di Berau,” ucapnya.
Ia berharap ke depan terbentuk kelompok tani kopi yang dapat mendorong kemajuan kopi lokal. Dengan begitu, dinasnya bersama OPD terkait dapat memberikan dukungan melalui program lintas sektor.
“Tentu kita bisa kolaborasi antar instansi untuk memberikan bantuan,” pungkasnya. (srn/dez)
Reporter: Sahruddin
Editor: Dezwan

