TARAKAN – Kalimantan Utara dinilai memiliki seluruh modal dasar untuk berkembang menjadi pusat industri hijau Indonesia. Letak geografis yang strategis, kekayaan sumber daya alam, hingga dukungan proyek-proyek strategis nasional, dinilai menjadi keunggulan yang belum dimiliki banyak daerah lain.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan meski merupakan provinsi termuda di Indonesia, Kalimantan Utara memiliki prospek besar menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalimantan Utara bagi saya merupakan provinsi yang masih sangat muda. Namun, provinsi ini telah memberikan kesan yang sangat mendalam,” kata Shinta, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, Kaltara memiliki kekayaan sumber daya alam yang lengkap, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan hingga pertambangan. Potensi tersebut menjadi fondasi kuat untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi, sekaligus membuka lapangan kerja.
Selain sumber daya alam, Kaltara juga memiliki kekayaan lingkungan yang masih terjaga. Kawasan seperti Taman Nasional Kayan Mentarang yang merupakan bagian dari Heart of Borneo, serta sejumlah destinasi wisata, menunjukkan pembangunan ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian alam.
Shinta menilai masa depan Kaltara semakin cerah dengan hadirnya Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIPI) di Tanah Kuning-Mangkupadi, Kabupaten Bulungan. Kawasan industri tersebut diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia, dan menjadi pintu masuk pengembangan industri berbasis hilirisasi.
Di sisi lain, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kayan dan PLTA Sungai Mentarang, diyakini akan menyediakan pasokan energi bersih dalam jumlah besar. Kombinasi industri dan energi hijau tersebut, dinilai menjadi keunggulan kompetitif yang dapat menarik investasi dalam skala besar.
“Potensi sebesar apa pun tidak akan berarti tanpa masyarakat yang mampu mengelolanya. Saya percaya masyarakat Kalimantan Utara memiliki semangat untuk terus membangun, beradaptasi, dan memanfaatkan setiap peluang yang ada,” ujarnya.
Meski optimistis, Shinta mengingatkan masih ada sejumlah tantangan yang perlu dibenahi agar potensi tersebut dapat dimaksimalkan. Mulai dari penyederhanaan regulasi, peningkatan kemudahan berusaha, penguatan hubungan industrial, hingga efisiensi biaya logistik yang selama ini menjadi keluhan pelaku usaha.
Menurutnya, Indonesia juga perlu memanfaatkan berbagai peluang perdagangan global. Salah satunya melalui implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), yang diharapkan mampu meningkatkan ekspor sekaligus menarik investasi baru.
Untuk mendukung hal itu, APINDO telah membentuk Investment Unit yang bertugas mempertemukan investor dengan daerah-daerah yang memiliki proyek investasi potensial.
“Kami berharap setiap daerah, termasuk Kalimantan Utara, dapat menyiapkan proyek-proyek strategis yang siap ditawarkan kepada investor,” katanya.
Shinta menegaskan, keberhasilan pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah maupun dunia usaha. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci agar potensi besar yang dimiliki Kalimantan Utara benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kalimantan Utara bukan hanya beranda Indonesia di wilayah utara, tetapi juga masa depan Indonesia. Masa depan yang dibangun melalui kerja sama, kepercayaan, dan komitmen untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

