BERAU – Realisasi investasi di Kabupaten Berau pada Tahun 2025 jauh melebihi target yang telah di tetapkan Pemerintah Kabupaten Berau, hingga menembus hampir 200 persen.
Namun dibalik capaian tersebut, sektor pariwisata yang sangat diharapkan dapat menopang pendapatan Kabupaten Berau justru belum menunjukkan ketertarikannya dalam investasi.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Berau, Nanang Bakran, mengungkapkan bahwa realisasi investasi tahun 2025 jauh melampaui ekspektasi pemerintah daerah.
“Dari segi investasi, target kita sekitar 4,5 persen, tapi realisasinya hampir mencapai 200 persen. Tentu ini angka yang sangat tinggi,” ujarnya.
Capaian ini menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap Berau. Namun, investasi yang masuk masih didominasi oleh sektor pertambangan dan perkebunan dua sektor yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Di sisi lain, sektor pariwisata yang memiliki potensi besar justru belum mampu menarik aliran investasi secara signifikan.
Padahal, Berau dikenal memiliki destinasi unggulan kelas dunia seperti Kepulauan Derawan yang kerap menjadi magnet wisatawan domestik maupun mancanegara.
Potensi ini seharusnya menjadi peluang besar bagi investor untuk mengembangkan berbagai lini usaha, mulai dari akomodasi, transportasi wisata, hingga ekonomi kreatif berbasis masyarakat.
Nanang mengakui, ketimpangan investasi antarsektor ini berdampak pada belum meratanya pertumbuhan ekonomi masyarakat. Secara teori, tingginya investasi seharusnya mampu mendorong daya beli dan aktivitas ekonomi lokal, namun kenyataannya belum sepenuhnya terasa.
“Kalau melihat dari investasi, harusnya ini cukup baik. Artinya kepercayaan investor tinggi dan secara logika daya beli masyarakat juga ikut terdorong,” jelasnya.
Ia menduga ada sektor-sektor ekonomi yang belum bergerak seimbang, sehingga tidak memberikan efek berantai yang optimal terhadap kesejahteraan masyarakat.
Dijelaskannya, Fokus pun mulai diarahkan pada sektor pariwisata yang dinilai memiliki efek berganda (multiplier effect) lebih luas dibanding sektor ekstraktif seperti tambang. Namun, tantangan utama bukan lagi sekadar promosi.
“Promosi sudah kita lakukan, termasuk melalui media sosial. Tapi mungkin yang perlu diperkuat adalah manajemen pariwisatanya,” tandas Nanang.
Hal ini mencakup pembenahan ekosistem pendukung, seperti infrastruktur akses menuju destinasi, kesiapan sumber daya manusia, hingga tata kelola destinasi yang profesional dan berkelanjutan.
Menurutnya, Tanpa perbaikan di sektor tersebut, potensi besar pariwisata Berau dikhawatirkan hanya akan menjadi daya tarik di atas kertas, tanpa mampu mengundang minat investasi yang serius.
Ke depan, pemerintah daerah dituntut untuk tidak hanya mengandalkan promosi, tetapi juga menciptakan iklim investasi yang kondusif dan terintegrasi di sektor pariwisata. Mulai dari penyederhanaan perizinan, penyediaan lahan yang jelas, hingga kepastian regulasi bagi investor.
Dirinya mengungkapkan, Jika langkah ini berhasil, sektor pariwisata diyakini dapat menjadi penyeimbang dominasi investasi tambang, sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang lebih inklusif bagi masyarakat Berau.
“Dengan demikian, lonjakan investasi tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi benar-benar bertransformasi menjadi kesejahteraan nyata yang dirasakan hingga ke tingkat lokal,” pungkasnya. (Ril)

