TARAKAN – Setelah sempat mengalami deflasi pada April 2026, Kota Tarakan kembali mencatat inflasi pada Mei 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan (month to month/m-to-m) Tarakan mencapai 0,41 persen, dengan angkutan udara menjadi komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi, mengatakan inflasi yang terjadi pada Mei 2026 terutama dipengaruhi kenaikan harga pada sektor transportasi, khususnya tarif angkutan udara.
“Pada Mei 2026, Kota Tarakan mengalami inflasi month to month sebesar 0,41 persen, di mana angkutan udara dominan memberikan andil inflasi,” ujarnya.
Selain inflasi bulanan, inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) Kota Tarakan tercatat sebesar 1,42 persen, sedangkan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) mencapai 3,08 persen.
Menurut Umar, angka inflasi tahunan tersebut dapat menjadi gambaran kondisi harga hingga akhir tahun, apabila pola inflasi pada bulan-bulan berikutnya mengikuti tren yang sama seperti tahun sebelumnya.
“Dapat dimaknai, jika besaran inflasi di sisa bulan tahun 2026 setelah Mei memiliki pola yang sama dengan tahun 2025, maka inflasi Kota Tarakan sepanjang tahun 2026 diperkirakan mencapai 3,08 persen,” katanya.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Mei 2026 dengan andil 0,37 persen. Disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,14 persen.
Sementara kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen, serta kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,01 persen.
Di sisi lain, terdapat sejumlah kelompok pengeluaran yang menahan laju inflasi. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil minus 0,09 persen, diikuti kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar minus 0,05 persen.
Secara komoditas, angkutan udara menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,3275 persen. Kemudian diikuti bakso siap santap, sawi hijau, minyak goreng, es, soto, bahan bakar rumah tangga, sepeda motor, tomat, dan beras.
Adapun komoditas yang dominan menahan inflasi yakni emas perhiasan, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, bayam, terong, pembersih lantai, rempela hati ayam, dan bawang putih.
Jika dibandingkan dengan wilayah lain, inflasi bulanan Kota Tarakan sebesar 0,41 persen lebih tinggi dibandingkan inflasi Provinsi Kalimantan Utara yang sebesar 0,27 persen dan nasional sebesar 0,28 persen. Untuk inflasi tahunan, Tarakan dan nasional sama-sama berada pada level 3,08 persen, sedangkan Kalimantan Utara tercatat 2,90 persen.
Umar menegaskan, pemantauan terhadap perkembangan harga berbagai komoditas strategis tetap penting dilakukan guna menjaga stabilitas inflasi dan daya beli masyarakat di Kota Tarakan.
Penulis: Ade Prasetia
Editor: Yusva Alam

