BERAU – Kabupaten Berau masih mencatatkan indeks risiko bencana yang tergolong tinggi pada tahun 2024, dengan bencana banjir sebagai ancaman paling dominan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Masyhadi Muhdi, menyampaikan bahwa banjir menjadi bencana dengan tingkat kejadian tertinggi dibanding jenis bencana lainnya.
“Banjir menjadi bencana dengan frekuensi paling tinggi,” jelasnya.
Menurutnya, hal ini dipicu oleh beberapa faktor, seperti curah hujan tinggi dan tidak menentu akibat perubahan cuaca, alih fungsi lahan yang mengurangi daya dukung lingkungan, serta kapasitas infrastruktur pengendali banjir yang masih terbatas.
Selain itu, tingginya aktivitas masyarakat yang bermukim di bantaran sungai turut memperbesar dampak banjir di wilayah Berau.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, BPBD Berau menyusun dokumen kontingensi bencana yang akan menjadi panduan operasional lintas sektor dalam menangani banjir, khususnya untuk skenario terburuk.
“Dokumen ini sangat penting karena akan memuat analisis risiko, skenario kejadian, prosedur koordinasi, serta kebutuhan nyata selama penanganan darurat. Penyusunannya harus dilakukan secara partisipatif dan berbasis data yang akurat,” tegasnya.
Berdasarkan kajian risiko bencana 2024, Indeks Risiko Bencana Kabupaten Berau berada pada angka 148,64 poin. Meskipun menurun dari tahun 2023 yang tercatat sebesar 173,74 poin, angka ini masih masuk dalam kategori tinggi.
“Tahun ini kita berupaya agar indeks itu bisa turun ke kategori sedang. Paling tidak dalam satu hingga dua tahun ke depan,” ujarnya optimis.
Untuk mendukung penyusunan dokumen kontingensi ini, BPBD Berau telah menginventarisasi sumber daya manusia, peralatan, serta logistik dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) lintas sektor. Sebanyak 156 peserta terlibat dalam kegiatan ini.
“Dokumen ini akan menjadi rencana operasional untuk merespon kejadian banjir secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Ini juga sebagai acuan dalam perencanaan, agar semua pihak siap saat bencana terjadi,” tutupnya. (ril/dez)
Reporter: Aril Syahrulsyah
Editor: Dezwan

