BERAU — Kawasan konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Berau kembali menunjukkan peran pentingnya sebagai habitat utama penyu di Kalimantan Timur.
Hasil pemantauan yang dilakukan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim dan Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak menunjukkan sebagian besar habitat peneluran penyu di Berau masih berada dalam kondisi baik.
Pemantauan dilakukan di sejumlah wilayah penting di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS), seperti Pulau Mataha, Sangalaki, Derawan, Teluk Sulaiman hingga Balikukup.
Kepala DKP Kaltim, Irhan Hukmaidy, mengatakan hasil pemantauan menjadi dasar penting untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi di Berau.
Menurutnya, Berau memiliki nilai ekologis yang sangat penting karena menjadi salah satu habitat penyu hijau terbesar di Indonesia sekaligus bagian dari bentang laut Segitiga Terumbu Karang dunia.
“Habitat peneluran penyu di sejumlah lokasi masih sangat baik dan perlu terus dijaga melalui pengelolaan kawasan konservasi yang kolaboratif bersama masyarakat,” ujarnya.
Dari 27 titik pengamatan, sebanyak 26 titik dinilai sangat sesuai sebagai lokasi peneluran penyu. Pantai-pantai tersebut memiliki karakteristik yang mendukung seperti pasir yang sesuai, vegetasi alami, hingga minim gangguan manusia.
Pulau Mataha menjadi salah satu lokasi terbaik karena tidak berpenghuni dan minim aktivitas manusia maupun polusi cahaya yang dapat mengganggu penyu saat bertelur.
Namun, beberapa kawasan seperti Pulau Derawan dan Balikukup menghadapi tekanan akibat sampah, pencahayaan buatan, dan aktivitas masyarakat di kawasan pesisir.
Selain memantau habitat, tim juga melakukan survei udara menggunakan pesawat nirawak. Hasilnya, sebanyak 913 individu penyu berhasil teridentifikasi di wilayah perairan pesisir Berau.
Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto, menyebut keterlibatan masyarakat pesisir menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan habitat penyu.
Ia mengatakan temuan ratusan penyu tersebut memperlihatkan bahwa kawasan konservasi Berau masih menjadi habitat penting yang harus dijaga bersama.
Survei terhadap 75 nelayan di wilayah pesisir Berau juga menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat terhadap perlindungan penyu cukup tinggi.
“Mayoritas responden paham kalau perburuan penyu adalah tindakan ilegal. Dan mereka juga mendukung upaya konservasi,” pungkasnya. (Srn)

