BERAU – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran daerah, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau memutar strategi dengan mengoptimalkan dukungan pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Memang dari sisi anggaran daerah kita mengalami efisiensi cukup besar. Jadi fokus kami sekarang meningkatkan pelayanan dengan mengajukan berbagai program bantuan ke APBN,” ujar Kepala DTPHP Berau, Junaidi.
Salah satu program strategis yang telah disetujui pemerintah pusat adalah pengembangan jagung seluas 1.300 hektare pada 2026, dengan target produksi sekitar 20 ton.
Program ini, kata dia, menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat produksi lokal.
Selain itu, DTPHP Berau juga mengusulkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) melalui Kementerian Pertanian. Bantuan yang diajukan meliputi 10 unit vertical dryer, hand tractor, combine harvester, hingga traktor roda empat dalam skema Brigade Pangan.
“Untuk tanaman pangan, bantuan dari APBN justru meningkat, termasuk jagung dan padi. Permintaan dari kelompok tani juga cukup tinggi,” jelasnya.
Adapun di sektor cetak sawah, Berau memperoleh alokasi 425 hektare pada 2025, meningkat dari rencana awal 300 hektare. Tambahan tersebut, lanjutnya, merupakan pengalihan kuota dari daerah lain yang belum mampu merealisasikan program serupa.
“Penanaman perdana dari hasil cetak sawah bahkan telah dilakukan di wilayah Buyung-Buyung,” sebutnya.
“Kalau untuk sentra pengembangan pangan tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Tabalar, Biatan, Sambaliung, Gunung Tabur, dan Teluk Bayur,” tuturnya.
Ia berharap realisasi bantuan APBN dapat segera berjalan, mengingat penanaman perdana jagung dijadwalkan mulai Maret mendatang.
“Karena APBD kita terbatas, mau tidak mau kita maksimalkan permohonan bantuan ke pusat agar kebutuhan petani tetap terpenuhi,” pungkasnya. (Srn)

