Diskan Berau Siapkan Deteksi Dini, Pembudidaya Diminta Segera Lapor Jika Ikan Mendadak Sakit

BERAU – Kematian ikan secara tiba-tiba masih menjadi ancaman yang menghantui para pembudidaya di Kabupaten Berau. Tidak sedikit petani baru mengetahui adanya serangan penyakit setelah jumlah ikan yang mati semakin banyak dan kerugian sulit dihindari.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, Dinas Perikanan Berau memperkuat layanan deteksi dini penyakit ikan. Pembudidaya diminta tidak menunggu kondisi semakin parah, tetapi segera melapor begitu menemukan gejala yang mencurigakan.

Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Madjid, mengatakan pihaknya telah menyiapkan tim beserta fasilitas pendukung untuk melakukan pemeriksaan langsung di lokasi budidaya apabila ada laporan dugaan serangan hama maupun penyakit.

“Jika ada indikasi ikan terserang hama atau penyakit, pembudidaya cukup melapor ke Dinas Perikanan. Tim kami akan turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan,” katanya.

Setelah menerima laporan, petugas akan mengambil sampel ikan beserta air dari kolam atau tambak. Sampel tersebut kemudian dikirim ke Balai Karantina untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Abdul Madjid mengatakan, hasil uji laboratorium menjadi dasar dalam menentukan penyebab kematian atau gangguan kesehatan ikan. Pemeriksaan juga dapat mengidentifikasi apakah masalah dipicu oleh penyakit, serangan hama, penurunan kualitas air, maupun faktor lingkungan lainnya.

“Hasil laboratorium menjadi acuan kami dalam memberikan rekomendasi penanganan kepada pembudidaya agar langkah yang diambil tepat sasaran,” jelasnya.

Setelah proses pengujian selesai, Balai Karantina akan menyerahkan hasil pemeriksaan kepada Diskan Berau. Selanjutnya, informasi tersebut diteruskan kepada pembudidaya sebagai dasar penanganan agar penyebaran penyakit dapat dicegah sedini mungkin.

Lebih lanjut, Diskan Berau juga melakukan pemantauan rutin terhadap kesehatan ikan budidaya. Pengambilan sampel dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada pertengahan dan akhir tahun, sebagai upaya mengawasi potensi munculnya penyakit di sentra-sentra budidaya.

“Kami berharap pembudidaya lebih cepat mengetahui kondisi kesehatan ikan sehingga potensi kerugian akibat kematian massal dapat ditekan,” tutupnya. (Srn)

BERITA POPULER