BERAU – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Berau mendorong seluruh satuan pendidikan menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum pembelajaran yang lebih bermakna, tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada penguatan karakter dan nilai keagamaan siswa.
Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisah, mengungkapkan bahwa pengaturan kegiatan belajar mengajar selama Ramadan saat ini masih disusun dalam kalender pendidikan. Meski demikian, secara umum pola yang diterapkan tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Biasanya, terdapat penyesuaian berupa libur di awal dan akhir Ramadan, serta pengurangan atau penyesuaian jam belajar untuk menyesuaikan kondisi fisik siswa yang menjalankan ibadah puasa.
“Ramadan selalu menjadi waktu yang tepat untuk menguatkan nilai keagamaan di sekolah. Karena itu, sekolah kami dorong berinovasi dengan kegiatan yang lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum pendidikan karakter yang efektif. Sekolah diharapkan mampu merancang kegiatan yang menanamkan nilai disiplin, kejujuran, empati, dan kepedulian sosial.
Beragam aktivitas keagamaan pun direncanakan mengisi kegiatan siswa selama Ramadan. Mulai dari pesantren kilat, ceramah keagamaan, pengajian bersama, hingga edukasi tentang makna dan hikmah Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan ini bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi harus mampu memberikan dampak positif bagi pembentukan sikap dan perilaku siswa,” jelasnya.
Selain itu, sekolah juga didorong untuk mengembangkan kegiatan sosial seperti berbagi takjil, santunan, atau aksi kepedulian lainnya yang melibatkan siswa secara langsung. Dengan begitu, nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama dapat tumbuh sejak dini.
Terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan, Disdik Berau belum dapat memastikan mekanisme teknisnya. Mardiatul menegaskan bahwa program tersebut berada di luar kewenangan langsung Disdik dan sangat bergantung pada kebijakan pelaksana serta kesiapan masing-masing sekolah.
“Kalau siswa libur, tentu tidak mungkin program berjalan setiap hari. Bentuknya bisa saja disesuaikan, misalnya dengan makanan ringan yang relevan seperti kurma,” jelasnya.
Meski demikian, Disdik Berau tetap mengambil peran dalam pengawasan melalui monitoring dan evaluasi. Fokus utama adalah memastikan keamanan pangan serta manfaat program bagi peserta didik, tanpa menimbulkan dampak negatif selama Ramadan.
“Bagian kami memastikan program ini aman dan tidak menimbulkan masalah bagi anak-anak. Untuk teknisnya ada koordinator dan pihak pelaksana tersendiri,” pungkasnya. (Ril)

