Disbudpar Berau Pastikan Semua Destinasi Dikembangkan, Wisata Bahari Tetap Jadi Unggulan

BERAU – Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terus mengoptimalkan pengembangan sektor pariwisata dengan memetakan sejumlah destinasi unggulan. Meski wisata bahari masih menjadi daya tarik utama, Disbudpar menegaskan tidak mengabaikan potensi wisata lain, termasuk di wilayah pedalaman.

Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, menjelaskan bahwa penetapan destinasi unggulan didasarkan pada sejumlah faktor pendukung. Di antaranya aksesibilitas yang memadai, keunikan destinasi, serta ketersediaan sarana dan prasarana penunjang.

“Memang sebagian besar destinasi unggulan kita berada di wilayah pesisir dengan konsep wisata bahari. Namun bukan berarti wisata lain dianaktirikan. Semua tetap mendapat perhatian sesuai potensi dan kondisi masing-masing,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).

Ia mencontohkan sejumlah destinasi yang telah dikenal luas karena keunikannya. Seperti Labuan Cermin di Kecamatan Biduk-Biduk yang memiliki fenomena air dua rasa, asin di bagian bawah dan tawar di permukaan.

Selain itu, kawasan Kepulauan Derawan juga menjadi magnet wisata, mulai dari Pulau Maratua, Pulau Kakaban dengan ubur-ubur tanpa sengat, hingga Pulau Derawan yang terkenal dengan penyu jinaknya.

“Keunikan-keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat wisatawan datang, bahkan untuk minat khusus seperti snorkeling dan wisata konservasi,” jelasnya.

Menurut Samsiah, Kabupaten Berau sebenarnya memiliki ragam destinasi yang lengkap, mulai dari wisata budaya, alam hingga bahari. Hanya saja, untuk wisata alam di pedalaman seperti di Kecamatan Segah dan Kelay, masih diperlukan penguatan daya tarik, baik dari sisi pengalaman perjalanan maupun pengelolaan destinasi.

“Wisata alam di pedalaman punya potensi besar, seperti air terjun dan panorama pegunungan. Tinggal bagaimana kita mengemasnya agar memberikan pengalaman atau ‘feel’ tersendiri bagi wisatawan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah memetakan pengembangan destinasi unggulan sejalan dengan perhatian dari pemerintah pusat dan provinsi. Sejumlah kawasan bahkan telah masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), seperti Pulau Maratua, Pulau Derawan, dan Biduk-Biduk.

“Pengembangannya dilakukan bersama, baik dari anggaran pusat, provinsi, maupun daerah. Ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan kualitas destinasi kita,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa pengembangan wisata pedalaman masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait keterbatasan anggaran dan aksesibilitas. Kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat juga berdampak pada pembangunan sarana dan prasarana di beberapa lokasi.

“Untuk menuju wisata pedalaman, akses jalannya masih banyak yang perlu perbaikan, jaraknya juga cukup jauh. Ini yang menjadi perhatian kita ke depan,” katanya.

Berbeda dengan destinasi pesisir yang sudah terintegrasi, wisata bahari di Berau menawarkan kemudahan akses antar lokasi. Wisatawan yang berkunjung ke Pulau Derawan, misalnya, dapat dengan mudah melanjutkan perjalanan ke Maratua, Kakaban, hingga Sangalaki dalam satu rangkaian perjalanan.

Hal serupa juga berlaku untuk jalur menuju Biduk-Biduk. Wisatawan dapat singgah di sejumlah titik menarik seperti Air Panas Asin Pemapak di Biatan, Danau Tulung Ni Lenggo di Batu Putih, hingga akhirnya menikmati keindahan Labuan Cermin dan Pulau Kaniungan.

“Dari segi biaya, wisata ke pesisir juga dinilai lebih efisien karena wisatawan bisa mendapatkan banyak pengalaman sekaligus dalam satu perjalanan,” jelasnya.

Ia menambahkan, karakter wisatawan yang didominasi keluarga juga menjadi pertimbangan. Destinasi pantai dinilai lebih ramah anak dan aman untuk liburan bersama keluarga.

“Kalau wisata pedalaman lebih menantang, seperti tracking ke air terjun atau mendaki. Itu biasanya diminati segmen tertentu yang memang mencari petualangan,” tutupnya. (*)

BERITA POPULER