BERAU – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau mulai memperkuat edukasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat kepada kalangan pelajar. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menanamkan kesadaran sejak usia dini bahwa geopark bukan sekadar destinasi wisata, tetapi merupakan warisan geologi, hayati, dan budaya yang harus dijaga bersama.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan sosialisasi ke sekolah-sekolah menjadi salah satu strategi untuk membangun pemahaman generasi muda mengenai pentingnya keberadaan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang saat ini menjadi salah satu kawasan unggulan di Kalimantan Timur.
Menurutnya, pelajar memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang nantinya dapat menyebarkan informasi sekaligus mengajak masyarakat menjaga kelestarian kawasan geopark.
“Saya harap, melalui edukasi sejak usia sekolah, para pelajar dapat menjadi duta kecil geopark yang ikut menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengenalkan potensi wisata Berau kepada masyarakat luas,” ujar Yudha.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa diperkenalkan dengan berbagai geosite yang berada di Kabupaten Berau. Mulai dari Labuan Cermin, Air Terjun Bidadari, Air Panas Asin Pemapak, Badai Biru Tulung Ni Lenggo, Kampung Merabu dengan Goa Tapak Tangan Purba, Tanjung Sinondok, Danau Kakaban, Pulau Maratua dengan Halo Tabung dan Haji Buang, Hutan Dumaring, Taman Sungai Dumaring, Keraton Gunung Tabur, Museum Gunung Tabur, hingga sejumlah geosite lainnya.
Selain menyuguhkan panorama alam yang menjadi daya tarik wisata, setiap lokasi juga memiliki nilai ilmiah, sejarah, dan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas Kabupaten Berau.
Yudha menjelaskan, masih banyak masyarakat yang memahami geopark sebatas kawasan wisata alam. Padahal, konsep geopark jauh lebih luas karena mengintegrasikan aspek pelestarian lingkungan, pendidikan, penelitian, hingga pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan.
Karena itu, Disbudpar sengaja menyasar pelajar agar pemahaman mengenai geopark dapat dibangun sejak dini dan menjadi bagian dari karakter generasi muda Berau.
“Melalui sosialisasi kami ingin mengenalkan tidak hanya kepada orang dewasa, tetapi juga kepada anak-anak agar memahami apa itu geopark, mengapa kawasan ini penting, dan bagaimana mereka bisa ikut menjaga serta mempromosikannya,” jelasnya.
Ia menyebutkan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat membentang di wilayah Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur dengan total 26 geosite. Sebanyak 15 geosite berada di Kabupaten Berau, sedangkan 11 geosite lainnya berada di Kutai Timur.
Seluruh geosite tersebut memiliki karakteristik geologi yang unik, keanekaragaman hayati yang tinggi, serta kekayaan budaya yang menjadi identitas kawasan dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi geowisata berkelas dunia.
Lebih lanjut, Yudha menegaskan bahwa pengembangan geopark tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata. Konsep geopark dibangun di atas tiga pilar utama, yakni geodiversity (keragaman geologi), biodiversity (keanekaragaman hayati), dan cultural diversity (keragaman budaya).
Menurutnya, ketiga aspek tersebut harus berjalan beriringan agar pelestarian kawasan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
“Kami ingin generasi muda memahami bahwa menjaga geopark sama artinya menjaga warisan alam dan budaya yang akan mereka nikmati di masa depan. Jika kesadaran ini tumbuh sejak sekolah, maka upaya pelestarian akan lebih mudah dilakukan,” pungkasnya. (SRN)

