Dinkes Berau Lakukan Pengawasan Program MBG, Pastikan Makanan Aman dan Bergizi

BERAU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau memastikan keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memperketat pengawasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Mulai dari pelatihan penjamah makanan, pemeriksaan kesehatan tenaga, hingga keterlibatan puskesmas dalam pengawasan harian dan mingguan, semua dijalankan demi menjaga kualitas makanan bagi kelompok penerima manfaat yang rentan gizi.

Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie, menegaskan pihaknya tidak hanya melakukan pendampingan di awal, tetapi juga pengawasan dan pembinaan secara berkelanjutan.

“Sejak program ini berjalan, kami sudah melakukan pelatihan bagi penjamah makanan, termasuk pelatihan izin sanitasi pangan. Saat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beroperasi, pengawasan dan pembinaan tetap dilakukan agar kualitas pengelolaan makanan selalu konsisten,” ujarnya.

Lamlay menyebutkan, ke depan akan ada sekitar 30 SPPG yang tersebar di seluruh Kabupaten Berau. Namun, pola pengawasan masih akan dirumuskan lebih lanjut di tingkat kabupaten.

“Kami akan membicarakan mekanismenya di internal Dinkes dan bersama Pemkab Berau. Informasi detailnya akan disampaikan setelah ada keputusan bersama,” jelasnya.

Untuk memastikan keamanan pangan, tenaga penjamah makanan yang bertugas di SPPG telah diperiksa kesehatannya melalui puskesmas. Langkah ini dilakukan untuk mencegah potensi penyebaran penyakit melalui makanan.

Selain itu, Dinkes akan memaksimalkan fungsi tenaga sanitarian di puskesmas dalam melakukan pengawasan harian maupun mingguan.

“Intinya, semua SPPG harus memegang standar pengelolaan makanan sesuai prinsip keamanan pangan. Mereka harus bisa mengenali titik kritis yang berpotensi menyebabkan pencemaran penyakit dalam makanan,” tegasnya.

Ia menambahkan, konsistensi standar operasional sangat penting agar program MBG tidak hanya memberi manfaat gizi, tetapi juga terjamin dari sisi kesehatan dan keamanan.

“Kalau tidak dijaga, risikonya bukan hanya kesehatan penerima manfaat, tetapi juga berdampak pada kerugian ekonomi. Apalagi sebagian penerima adalah kelompok rentan gizi,” pungkasnya. (ril/dez)

Reporter: Aril Syahrulsyah
Editor: Dezwan

BERITA POPULER