BERAU – Pulau Derawan, destinasi wisata bahari unggulan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, terus menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Pulau kecil seluas 44,6 hektar ini menjadi pintu masuk wisatawan yang ingin menikmati keindahan pesisir dan bawah laut, dengan ikon satwa seperti penyu, hiu paus, dan lumba-lumba.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau mencatat, jumlah kunjungan wisatawan ke Kecamatan Pulau Derawan mencapai 34.160 orang pada 2024. Pertumbuhan ini memberi dampak positif bagi ekonomi lokal, namun sekaligus memunculkan masalah baru terkait timbulan sampah.
Sepanjang 2023, tercatat 80 bangunan non-rumah tangga seperti penginapan dan rumah makan beroperasi di Pulau Derawan. Bangunan-bangunan tersebut menghasilkan rata-rata 46,1 ton sampah per hari, jumlah yang sangat besar untuk wilayah kecil. Minimnya fasilitas pengelolaan membuat sebagian besar sampah dibakar, dikubur, atau bahkan dibuang langsung ke laut. Kondisi ini mengancam ekosistem laut, termasuk penyu yang menjadi ikon Derawan dan Kabupaten Berau.
“Sampah plastik sudah menjadi perhatian serius bagi masyarakat maupun pemerintah Kampung Derawan. Namun sistem pengelolaan yang ada masih sangat terbatas,” ungkap Kepala Kampung Derawan, Indra Mahardika.
Sebagai solusi, Pemerintah Kabupaten Berau bersama Yayasan WWF Indonesia sejak Juni 2024 menyusun Master Plan Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Pulau Derawan, yang menempatkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah berbasis Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) sebagai prioritas utama.
Lahan seluas 20 x 20 meter telah dibeli, dan proses legalitas serta perizinan pembangunan yang berlangsung lebih dari satu tahun akhirnya rampung. Saat ini izin resmi telah diterbitkan, dan pembangunan TPS3R siap dilaksanakan.
“Melalui pembangunan TPS3R, harapannya masyarakat Derawan dapat lebih terbantu dan semakin aktif terlibat, tidak hanya dalam menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga dalam memilah dan mengelola sampah sebagai sumber daya yang bernilai,” ujar Dr. Imam Musthofa Zainudin, Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia.
WWF Indonesia turut mendampingi masyarakat Derawan dalam mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah, hingga memperkuat inisiatif ekonomi lokal berbasis ekonomi sirkular.
“Dengan hadirnya TPS3R, Pulau Derawan diharapkan bisa menjadi contoh kawasan konservasi yang mampu menyeimbangkan pengembangan pariwisata dengan pelestarian lingkungan,” pungkasnya. (srn/dez)
Reporter: Sahruddin
Editor: Dezwan

