BERAU – Bupati Berau, Sri Juniarsih beri peringatan tegas terhadap seluruh instansi di lingkungan Pemkab Berau agar tidak bersikap acuh tak acuh terhadap fasilitas publik yang telah terbangun.
Ia menilai masih banyak sarana umum yang dibangun dengan anggaran besar, namun belum dirawat secara optimal. Beberapa fasilitas yang menjadi sorotan di antaranya taman kota, penerangan jalan umum (PJU) di sejumlah ruas jalan, hingga drainase yang tersebar di berbagai titik.
Menurutnya, seluruh fasilitas tersebut dibangun dengan biaya yang tidak sedikit, bahkan mencapai puluhan miliar rupiah.
“Semua itu dibangun dengan anggaran besar. Sangat disayangkan kalau sudah difungsikan, tetapi perawatannya tidak maksimal. Saya meminta taman-taman kota untuk dirapikan,” tegasnya.
Sri menekankan, taman kota bukan sekadar elemen estetika, melainkan ruang publik yang menjadi wajah daerah dan tempat interaksi masyarakat. Karena itu, kebersihan, kerapian tanaman, serta kelayakan fasilitas penunjang harus menjadi perhatian rutin pemerintah setempat.
Selain taman, kondisi PJU juga menjadi perhatian serius. Ia mengaku masih kerap mendapati lampu jalan yang tidak berfungsi, termasuk di kawasan Teras Kalimarau. Hal tersebut dinilai berpotensi mengganggu kenyamanan dan keselamatan masyarakat, terutama pada malam hari.
“Saya sering lihat lampu mati. Kalau tokennya habis, harus segera dikoordinasikan dengan dinas terkait. Jangan dibiarkan berlarut-larut,” ujarnya.
Sri meminta lurah dan camat lebih proaktif melakukan pengecekan di wilayah masing-masing serta segera berkoordinasi dengan dinas teknis apabila ditemukan kerusakan. Menurutnya, komunikasi yang cepat dan responsif menjadi kunci agar pelayanan publik tetap berjalan optimal.
Tak kalah penting, persoalan drainase juga menjadi sorotan utama. Sampah yang menumpuk, lumpur yang tidak pernah disedot, hingga rumput liar yang tumbuh di dalam saluran air dinilai menjadi penyebab utama terganggunya aliran air saat hujan deras turun.
Perawatan drainase menurutnya, harus dilakukan secara berkala dan tidak menunggu hingga terjadi genangan atau banjir. Apalagi, wilayah perkotaan Berau, terutama kawasan Bedungun hingga Teluk Bayur, masih menjadi daerah langganan banjir saat curah hujan tinggi.
“Saya minta gotong royong. Dua kali seminggu harus turun untuk pembersihan. BPBD, DPUPR, lurah, dan masyarakat harus bekerja sama melakukan perawatan,” tegasnya.
Ia menambahkan, semangat kolaborasi dan kepedulian bersama perlu terus ditumbuhkan agar persoalan banjir dan kerusakan fasilitas publik dapat ditekan. Pemerintah, lanjutnya, tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat.
Ia berharap seluruh fasilitas publik yang telah dibangun dengan susah payah dan menggunakan anggaran besar dapat terpelihara dengan baik sehingga memiliki usia pakai yang panjang. Terlebih saat ini pemerintah berada dalam masa efisiensi anggaran, di mana banyak program harus disesuaikan akibat pemangkasan anggaran.
“Kita berada di masa efisiensi, anggaran banyak dipangkas. Jadi semua yang sudah dibangun tidak boleh dibiarkan rusak tanpa perawatan. Ini tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (Ril)

