BUMK Pegat Bukur Sumbang Rp110 Juta per Tahun ke APBK, Jadi Percontohan Kampung Mandiri di Berau

BERAU – Kampung Pegat Bukur yang terletak di Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, dinilai berhasil dalam mengelola Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) secara konsisten dan berkelanjutan.

Keberhasilan tersebut terlihat dari kontribusi BUMK terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung (APBK) yang mencapai sekitar Rp110 juta setiap tahunnya.

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau, Muhammad Said, mengungkapkan bahwa capaian tersebut patut diapresiasi dan dijadikan contoh bagi kampung lain di Berau.

“Setiap tahun mereka bisa mengumpulkan dana yang disumbangkan ke APBK sekitar Rp110 juta,” ungkapnya.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan BUMK yang serius dan profesional mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan kampung. Padahal, secara geografis Pegat Bukur dikenal sebagai salah satu wilayah yang rawan banjir. Namun kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi pengurus BUMK untuk terus menjalankan usaha secara produktif.

Tak hanya berkontribusi terhadap pendapatan kampung, hasil usaha BUMK juga dimanfaatkan untuk memperkuat sarana dan prasarana pendukung lainnya. Salah satu capaian yang menonjol adalah pembangunan sekretariat BUMK dengan anggaran sekitar Rp300 hingga Rp400 juta.

“Bahkan mereka bisa membangun sekretariat BUMK dengan anggaran kurang lebih Rp300 sampai Rp400 juta,” jelasnya.

Lebih dari itu, keuntungan usaha juga dialokasikan untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah kampung melalui program kepala kampung memberikan beasiswa kepada mahasiswa setempat, dengan target setiap kepala keluarga (KK) minimal memiliki satu sarjana.

“Kemudian mereka juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang ada di kampung tersebut karena program kepala kampung itu setiap KK paling kurang ada satu sarjana,” sambungnya.

Muhammad Said menilai, keberhasilan Pegat Bukur menunjukkan bahwa status kampung mandiri seharusnya tidak hanya sebatas predikat administratif. Kampung yang telah menyandang status mandiri harus mampu menopang keuangan sendiri melalui optimalisasi potensi lokal, termasuk pengelolaan BUMK secara maksimal.

“Saya berharap kampung-kampung lain di Berau dapat meniru langkah Pegat Bukur dalam membangun kemandirian ekonomi, sehingga tidak terus-menerus bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan mampu menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakatnya,” pungkasnya. (Ril)

BERITA POPULER