BERAU — Banjir besar melanda Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut dan menyebabkan Sungai Segah meluap.
Akibatnya, 14 Kampung di Kecamatan Segah dan Kecamatan Kelay terendam banjir, dengan enam kampung di antaranya mengalami banjir terparah. Ketinggian air dilaporkan mencapai tiga hingga lima meter.
Salah satunya, Kampung Long Ayan, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau turut merasakan dampak dari banjir besar tersebut.
Setelah banjir besar yang datang secara tiba-tiba merendam hampir seluruh wilayah permukiman dan fasilitas umum. Masyarakat tidak menyangka musibah sebesar ini akan menimpa kampung mereka.
Kepala Kampung Long Ayan, Hardiansyah, mengungkapkan bahwa banjir terjadi begitu cepat, mengejutkan seluruh warga. “Air datang secara mendadak. Warga tidak menyangka banjir sebesar ini bisa terjadi. Ini pertama kali kami mengalami kejadian seperti ini,” ujarnya.
Akibat kejadian ini, banyak warga tidak sempat menyelamatkan harta benda. Barang-barang berharga, alat rumah tangga, perlengkapan anak-anak, hingga dokumen penting hilang dalam hitungan menit karena arus air yang deras.
Berdasarkan hasil pendataan korban terdampak banjir yang dilakukan oleh Pemerintah Kampung Long Ayan di empat RT. Sebanyak 125 rumah terdampak, Aula kampung, tiga gereja, Gedung PKK, Perpustakaan, Sekolah Dasar (SD), Balai Kampung, Poskesdes, Perumahan Guru, Lapangan Futsal, Taman, Kantor Kepala Kampung, Gedung Olahraga, dan Sekretariat BUMDes.
Sejumlah kelompok rentan mengalami dampak paling parah. Diantaranya, 3 bayi dan 32 balita, Anak-anak sekolah kehilangan seragam dan perlengkapan belajar dan Ruang kelas di SD terendam lumpur, sehingga kegiatan belajar-mengajar tidak dapat dilaksanakan.
Kemudian, Sektor Ekonomi dan UMKM Lumpuh juga turut terdampak banjir tersebut. 10 pelaku UMKM kehilangan seluruh barang dagangan, 1 kios warga hanyut dan Kantin sekolah dasar hilang terbawa arus.
Selain sektor ekonomi dan pendidikan, Fasilitas kesehatan mengalami rusak berat. Beberapa peralatan medis vital seperti tensimeter digital, doppler janin, alat resusitasi bayi, hingga tabung oksigen rusak akibat terendam air. Pagar Poskesdes roboh dan tidak ada satu pun peralatan medis yang dapat digunakan saat ini.
“Situasi semakin darurat karena terdapat ibu hamil yang diperkirakan akan melahirkan dalam waktu dekat, namun tidak ada peralatan yang memadai untuk proses persalinan,” ujarnya.
Keterbatasan alat transportasi air juga menjadi kendala besar dalam proses evakuasi warga, terutama bayi, lansia, dan ibu hamil. Hanya terdapat sedikit perahu yang bisa digunakan, memperlambat penyelamatan.
Untuk itu, Pemerintah Kampung Long Ayan mengajukan permohonan bantuan segera kepada Pemerintah Kabupaten, khususnya OPD terkait untuk memberikan bantuan prioritas yang dibutuhkan.
“Kami sangat membutuhkan, alat kesehatan untuk Poskesdes, Perlengkapan darurat untuk ibu hamil dan bayi, Bantuan logistik dan pakaian sekolah dan Pemulihan fasilitas pendidikan dan tempat ibadah,” tuturnya.
“Kami sangat membutuhkan dukungan pangan, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan untuk warga pascabanjir. Kami mengandalkan kepedulian dan kolaborasi dari semua pihak agar proses pemulihan bisa segera dimulai,” tambahnya.
Saat ini, proses pendataan kerugian masih berlangsung. Namun, masyarakat telah melaporkan kerugian materil akibat dampak banjir tersebut.
“Situasi di Kampung Long Ayan membutuhkan perhatian segera. Setiap bantuan dan uluran tangan akan sangat berarti bagi pemulihan kehidupan warga yang terdampak,” pungkasnya. (ril/dez)
Reporter: Aril Syahrulsyah
Editor: Dezwan

