Banjir di Berau Ancam Produksi Perkebunan, Petani Kakao dan Lada Paling Terdampak

BERAU – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Berau berdampak signifikan terhadap sektor perkebunan, terutama pada komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kakao, dan lada.

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Berau, Lita Handini, mengatakan banjir yang berkepanjangan telah menurunkan produksi, meski tanaman sawit dikenal lebih tahan terhadap genangan air.

“Kalau sawit kena banjir seminggu masih bisa bertahan, tapi buahnya bisa busuk. Kalau banjirnya terus-menerus, tentu akan ada penurunan produksi. Ini sudah kami prediksi,” ujarnya.

Menurutnya, tanaman kakao dan lada lebih rentan terdampak banjir. Tanaman kakao dan lada yang berusia di bawah dua tahun dipastikan mati jika terendam banjir, sedangkan tanaman berumur lebih dari tiga tahun diperkirakan selamat, meskipun buahnya tidak bisa dipanen.

“Saya tadi sudah laporkan ke bupati, untuk tanaman kakao jangan berharap bisa produksi maksimal. Bahkan lebih dari 50 persen bisa gagal panen,” jelasnya.

Selain tanaman perkebunan utama, beberapa tanaman baru yang dibagikan melalui program kerja sama Disbun dengan perusahaan, seperti Berau Coal, juga ikut terdampak. Saat ini pihaknya masih mendata kondisi di kampung-kampung terdampak banjir sambil menunggu konfirmasi dari masyarakat terkait kelanjutan budidaya tanaman.

“Kami tetap siap memfasilitasi bantuan stimulan jika masyarakat masih ingin menanam. Tapi kami sarankan memilih lokasi yang tidak rawan banjir. Kalau masih di area banjir, kami tidak bisa terus memberikan bantuan karena takut tidak efektif.” tuturnya.

Ia memastikan ketersediaan bibit dan pupuk tetap ada, karena kakao dan lada sudah ditetapkan sebagai komoditas unggulan daerah. Pemerintah daerah, lanjutnya, menunjukkan komitmen kuat mendukung petani, termasuk mengalokasikan anggaran untuk membantu pemulihan.

“Kami usulkan bantuan untuk pemulihan, terutama bagi daerah di sepanjang aliran sungai. Tapi karena anggaran tahun ini sudah dikunci, kami akan coba masukkan pada saat asistensi anggaran. Jika tidak memungkinkan tahun ini, kami usulkan di tahun 2026,” pungkasnya. (srn/dez)

Reporter: Sahruddin
Editor: Dezwan

BERITA POPULER