BERAU – Meski telah masuk dalam kalender wisata resmi Kabupaten Berau, gelaran tahunan Abutta Banua yang menjadi rangkaian peringatan HUT Kecamatan Sambaliung, masih belum menunjukkan lonjakan signifikan dalam jumlah pengunjung. Padahal, acara ini menyuguhkan kekayaan budaya otentik Berau, termasuk prosesi adat memandikan pengantin khas masyarakat Sambaliung.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Ilyas Natsir, menyebut bahwa kendala bukan terletak pada kemasan atau isi acara yang kurang menarik. Menurutnya, justru acara ini sangat kaya nilai budaya dan estetika, namun perlu penyesuaian pada aspek penyajian agar lebih mudah diakses dan dinikmati oleh masyarakat luas.
“Prosesi memandikan pengantin ini sebenarnya sangat menarik dan penuh makna. Tapi karena digelar di atas panggung dengan ruang terbatas, tidak semua pengunjung bisa melihat dengan jelas. Ke depan, kami sarankan agar prosesi ini dilakukan di ruang terbuka agar lebih inklusif dan atraktif,” ungkapnya.
Disbudpar Berau mengaku akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Abutta Banua dan event-event lain dalam kalender wisata daerah. Tujuannya bukan hanya menambah jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM lokal.
“Memang setiap event pasti kita evaluasi. Harapannya, selain mendongkrak kunjungan wisata, juga mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil di sekitar lokasi acara,” lanjutnya.
Digelar selama sepekan di Tepian Sambaliung, Abutta Banua bukan sekadar perayaan ulang tahun kecamatan. Event ini juga menjadi ajang penting pelestarian seni, adat, dan permainan rakyat. Sekitar 90 persen kegiatan difokuskan pada warisan budaya tradisional masyarakat Berau.
Tahun ini, acara juga dirangkaikan dengan peringatan HUT ke-5 PKL Basuli Sambaliung, sebuah komunitas pedagang kaki lima yang turut menyemarakkan suasana festival dan menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi lokal selama acara berlangsung.
Ilyas menambahkan, ke depan perlu ada sinergi lintas sektor, termasuk dengan media, pelaku pariwisata, dan komunitas kreatif, untuk meningkatkan promosi dan eksposur event-event budaya seperti Abutta Banua. Ia juga menyinggung perlunya penggunaan platform digital dan media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk wisatawan luar daerah.
“Konten acaranya sebenarnya sudah kuat. Tinggal bagaimana cara kita membungkusnya lebih menarik dan menjangkau lebih banyak orang. Jika perlu, kita gandeng komunitas digital dan influencer lokal untuk ikut mempromosikan,” pungkasnya. (ril/dez)
Reporter: Aril Syahrulsyah
Editor: Dezwan

