Utang Menyusut, RSUD Abdul Rivai Fokus Pulihkan Kesehatan Finansial

BERAU – Kondisi keuangan RSUD Abdul Rivai masih menjadi perhatian serius, meski tekanan yang sempat memuncak di awal tahun 2026 mulai menunjukkan perbaikan.

Rumah sakit tersebut sebelumnya tercatat memiliki beban utang lebih dari Rp38 miliar, namun kini angkanya disebut terus menurun.

Direktur RSUD Abdul Rivai, Jusram, menjelaskan bahwa nilai utang tersebut merupakan posisi awal tahun dan telah berkurang seiring pembayaran kewajiban yang dilakukan secara bertahap.

“Angka itu data di awal tahun. Sekarang sudah tidak sebesar itu lagi karena sebagian sudah kami selesaikan,” ujarnya.

Meski demikian, pihak rumah sakit masih menunggu hasil audit dari Inspektorat untuk memastikan kondisi keuangan secara final dan menyeluruh. Audit tersebut akan menjadi acuan dalam menentukan langkah penyehatan keuangan ke depan.

Jusram memaparkan, utang rumah sakit berasal dari beberapa komponen utama, seperti pengadaan obat-obatan, pembayaran jasa pelayanan tenaga kesehatan, serta kewajiban pembangunan fisik gedung.

Dari keseluruhan beban tersebut, saat ini porsi terbesar yang tersisa adalah utang pembangunan fisik. Sementara itu, utang pengadaan obat yang sebelumnya mencapai sekitar Rp10 miliar kini berhasil ditekan menjadi Rp3,5 miliar.

Menurutnya, skema pengadaan obat memang tidak memungkinkan pembayaran sekaligus, karena dilakukan melalui kerja sama dengan distributor dengan sistem pembayaran bertahap.

Di tengah kewajiban yang masih harus diselesaikan, RSUD Abdul Rivai juga memiliki piutang sekitar Rp12 miliar. Piutang tersebut berasal dari klaim BPJS Kesehatan, asuransi, serta pembayaran perusahaan.

Dana ini dinilai krusial dalam menjaga keseimbangan arus kas, terutama untuk memenuhi kebutuhan operasional harian rumah sakit.

“Piutang ini sangat membantu cash flow kami. Ketika cair, itu bisa langsung digunakan untuk menutup kebutuhan operasional,” jelas Jusram.

Tekanan keuangan tidak hanya datang dari sisi utang, tetapi juga dari menurunnya pendapatan sepanjang tahun 2025. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya biaya operasional, terutama untuk pengadaan obat-obatan.

Kenaikan biaya tersebut dipicu oleh bertambahnya layanan medis, termasuk penambahan dokter spesialis di berbagai bidang seperti anak, gigi, obgyn, hingga bedah mulut.

Ekspansi layanan ini memang meningkatkan kualitas pelayanan, namun di sisi lain turut membebani keuangan karena kebutuhan logistik medis ikut meningkat.

Sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), RSUD Abdul Rivai memiliki fleksibilitas dalam mengelola keuangan, termasuk dalam pengaturan utang dan piutang. Skema ini memungkinkan rumah sakit melakukan penyesuaian strategi keuangan secara lebih adaptif.

Saat ini, Jusram mengungkapkan menitikberatkan pada penyehatan arus kas melalui percepatan pembayaran kewajiban, optimalisasi klaim piutang, serta pengendalian belanja operasional.

Untuk utang pembangunan fisik, pihak rumah sakit berharap adanya dukungan dari Pemerintah Kabupaten Berau, mengingat proyek tersebut berkaitan dengan aset daerah.

Dengan kondisi yang berangsur membaik, RSUD Abdul Rivai kini berupaya menjaga stabilitas keuangan dalam jangka panjang. Langkah ini dinilai penting agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal tanpa terganggu tekanan finansial.

“Kami optimistis, dengan kombinasi antara pengelolaan utang yang lebih terkendali dan potensi pencairan piutang, kondisi keuangan rumah sakit dapat kembali stabil secara bertahap,” pungkasnya. (RIl)

BERITA POPULER