BERAU – Pemerintah Kabupaten Berau berupaya mempercepat penambahan kapasitas layanan hemodialisa di RSUD dr Abdul Rivai setelah puluhan warga masih harus menjalani terapi cuci darah di luar daerah akibat keterbatasan daya tampung rumah sakit.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengungkapkan sedikitnya 58 warga Berau saat ini menjalani terapi hemodialisa di Tarakan, Balikpapan, hingga Samarinda.
Kondisi tersebut terjadi karena layanan di RSUD dr Abdul Rivai belum mampu mengakomodasi seluruh pasien gagal ginjal yang membutuhkan terapi rutin.
“Kami tentu prihatin karena masyarakat harus berobat ke luar daerah. Ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar pelayanan bisa segera ditingkatkan,” ujar Gamalis.
Ia menjelaskan, kendala yang dihadapi bukan disebabkan minimnya alat kesehatan maupun tenaga medis. Justru, rumah sakit telah memiliki mesin dan sumber daya manusia yang siap memberikan pelayanan.
“Mesin tersedia, tenaga kesehatan juga siap. Bahkan kerja sama operasional sudah ada. Yang menjadi kendala saat ini adalah ruang pelayanan yang masih terbatas,” katanya.
Saat ini layanan hemodialisa di RSUD dr Abdul Rivai hanya didukung delapan tempat tidur yang harus melayani pasien gagal ginjal secara bergantian.
Mayoritas pasien, kata dia, diwajibkan menjalani terapi sebanyak dua kali dalam sepekan sehingga kapasitas pelayanan cepat penuh dan pasien baru sulit mendapatkan jadwal.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkab Berau tengah mempercepat penambahan ruang pelayanan agar kapasitas layanan hemodialisa dapat meningkat dan seluruh kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi.
“Kami ingin masyarakat yang selama ini harus cuci darah di luar daerah bisa kembali mendapatkan pelayanan di Berau dan lebih dekat dengan keluarganya,” pungkasnya. (Srn)

