Kapasitas Terbatas, Layanan Cuci Darah RSUD Abdul Rivai Disorot DPRD Berau

BERAU – Ketersediaan layanan hemodialisis atau cuci darah di RSUD Abdul Rivai kembali menjadi sorotan dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Berau. Tingginya jumlah pasien yang membutuhkan layanan tersebut dinilai belum diimbangi dengan kapasitas fasilitas yang memadai.

Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, mengungkapkan bahwa jumlah pasien cuci darah di Kabupaten Berau terus mengalami peningkatan, baik setiap bulan maupun setiap tahun. Namun, keterbatasan fasilitas di RSUD Abdul Rivai membuat rumah sakit tersebut belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan pasien.

“Pasien terus bertambah, tapi fasilitas yang tersedia belum mencukupi. Ini berdampak pada antrean panjang, bahkan ada warga Berau yang harus menjalani cuci darah di luar daerah,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera mendapatkan perhatian serius. DPRD Berau pun mendorong manajemen rumah sakit bersama pemerintah daerah untuk mencari solusi konkret guna mengatasi keterbatasan layanan tersebut.

Menanggapi hal itu, Direktur RSUD Abdul Rivai, Jusram, membenarkan adanya keterbatasan kapasitas layanan hemodialisis. Ia menjelaskan, saat ini rumah sakit memiliki 12 unit mesin cuci darah, namun yang dapat dioperasikan hanya 8 unit, sesuai ketentuan dari BPJS Kesehatan terkait standar luas ruangan dan jumlah mesin.

“Kami sebenarnya punya 12 mesin, tapi yang bisa digunakan hanya 8. Masih ada 4 mesin yang belum terpakai karena keterbatasan ruang,” jelasnya.

Dengan 8 mesin yang beroperasi, lanjut Jusram, kapasitas layanan hanya mampu melayani sekitar 36 pasien. Sementara jumlah pasien yang mengantre mencapai 47 orang. Bahkan, berdasarkan data BPJS, terdapat sekitar 80 warga Berau yang menjalani cuci darah, termasuk yang berobat ke luar daerah.

“Setiap bulan ada penambahan sekitar 2 hingga 3 pasien baru. Ini menjadi tantangan karena pasien yang sudah rutin tetap harus dilayani, sementara pasien baru terus bertambah,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa layanan cuci darah dijadwalkan secara ketat. Setiap pasien memiliki jadwal tetap, biasanya dua kali dalam seminggu dengan durasi sekitar lima jam setiap tindakan.

“Pasien-pasien ini bergantian setiap hari sesuai jadwal. Saat ini ada sekitar 30 pasien aktif yang rutin menjalani cuci darah di rumah sakit,” tambahnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, RSUD Abdul Rivai menargetkan penambahan hingga 20 unit mesin cuci darah. Namun, hal itu terkendala keterbatasan ruangan yang tersedia di rumah sakit.

“Kami sangat membutuhkan dukungan pemerintah daerah, terutama untuk penambahan atau pembangunan ruang baru. Karena kondisi saat ini, kami tidak lagi memiliki ruang yang bisa dialihkan. Renovasi pun sudah tidak memungkinkan untuk menambah kapasitas secara signifikan,” tegasnya.

Jusram juga menekankan bahwa layanan hemodialisis bukan semata-mata berorientasi bisnis, melainkan pelayanan kemanusiaan yang harus tetap berjalan demi keselamatan pasien. (Ril)

BERITA POPULER