Di Tengah Kekurangan, RSUD Tanjung Redeb Tetap Didorong Beroperasi Bertahap

BERAU – Rencana pengoperasian RSUD Tanjung Redeb di Jalan Sultan Agung terus menuai perdebatan. Di satu sisi, berbagai kekurangan masih ditemukan. Namun di sisi lain, rumah sakit tersebut dinilai tidak bisa dibiarkan terlalu lama tanpa aktivitas.

Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan Kalimantan Timur sekaligus konsultan teknis RSUD Tanjung Redeb, Syahrir Andi Pasinringi, menilai pendekatan bertahap menjadi pilihan paling realistis dalam kondisi saat ini.

“Tidak ada rumah sakit baru yang langsung sesuai standar. Pasti butuh penyesuaian dan perbaikan,” ujarnya.

Menurut Syahrir, kondisi RSUD Tanjung Redeb saat ini memang belum ideal. Dari total tiga gedung yang direncanakan, baru satu yang tersedia. Selain itu, sejumlah sarana dan prasarana juga belum terpenuhi sepenuhnya.

Namun, menunda operasional hingga semua sempurna dinilai bukan pilihan yang bijak, terutama di tengah keterbatasan anggaran daerah.

“Kalau dibiarkan tidak dioperasionalkan, justru bisa menimbulkan masalah, termasuk potensi kerugian dan aspek hukum,” tegasnya.

Ia menjelaskan, bangunan yang telah selesai tetapi tidak dimanfaatkan berisiko menjadi temuan dalam pengelolaan aset pemerintah. Oleh karena itu, pengoperasian secara bertahap sambil melakukan pembenahan dianggap sebagai solusi paling rasional.

Dalam peninjauan yang telah dilakukan beberapa kali, Syahrir mengungkapkan masih terdapat sejumlah catatan penting. Mulai dari ketersediaan ruang yang belum lengkap hingga penataan beberapa instalasi yang belum sesuai standar.

Salah satu contoh adalah instalasi gizi yang direncanakan perlu dipindahkan karena lokasi saat ini dinilai tidak sesuai.

Selain itu, standar teknis rumah sakit yang sangat detail juga menjadi tantangan tersendiri. Mulai dari spesifikasi material seperti lantai vinyl, pencahayaan ruangan, hingga desain pintu dan kamar mandi harus memenuhi ketentuan tertentu.

“Standar rumah sakit itu sangat rinci, tidak semua orang memahaminya secara detail. Karena itu, perlu perbaikan bertahap,” jelasnya.

Syahrir juga mengungkapkan bahwa proyek RSUD Tanjung Redeb telah melalui proses panjang sejak dirancang pada 2020. Dalam perjalanannya, terjadi perubahan regulasi dari Kementerian Kesehatan yang turut memengaruhi desain dan standar yang harus dipenuhi.

Selain itu, ia juga menyinggung kemungkinan adanya keterbatasan dalam perencanaan awal, sehingga hasil pembangunan belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan ideal rumah sakit modern.

Di balik berbagai kekurangan, keberadaan RSUD Tanjung Redeb tetap menjadi harapan besar bagi masyarakat Berau untuk mendapatkan akses layanan kesehatan yang lebih baik.

Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa pengoperasian tetap didorong, meski belum dalam kondisi sempurna.

“Apakah harus menunggu sempurna? Kalau menurut saya, tidak. Lebih baik dioperasionalkan dulu, sambil kita benahi kekurangannya,” pungkasnya. (ril)

BERITA POPULER