BERAU — Keterbatasan anggaran daerah ditambah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat program normalisasi dan perbaikan drainase di Berau tidak dapat berjalan maksimal seperti sebelumnya.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau kini memilih fokus mempertahankan fungsi saluran air yang sudah ada dibanding menambah pembangunan fisik baru.
Kepala Bidang SDA dan Cipta Karya DPUPR Berau, Hendra Pranata, mengatakan kondisi anggaran saat ini memaksa pihaknya melakukan penyesuaian prioritas pekerjaan di lapangan.
“Untuk progres naik itu sepertinya hampir tidak ada dalam keadaan seperti ini. Kita cuma mempertahankan saja yang memang sudah berjalan supaya tambah lancar lagi,” ujarnya.
Menurut Hendra, banyak drainase dan parit di sejumlah kawasan perkotaan mengalami pendangkalan maupun penyumbatan sehingga perlu segera dinormalisasi agar aliran air tetap lancar saat hujan.
Namun, rencana lanjutan perbaikan drainase di beberapa titik, termasuk kawasan kampung dan pesisir, masih menunggu kepastian alokasi anggaran. “Kita masih tunggu kepastian dulu karena defisit anggaran ini luar biasa,” katanya.
Ia menjelaskan, tekanan tidak hanya datang dari kondisi keuangan daerah, tetapi juga dari meningkatnya biaya operasional proyek akibat kenaikan harga BBM dan material konstruksi.
Harga solar yang melonjak disebut berdampak langsung terhadap kemampuan penyedia jasa dalam menjalankan pekerjaan di lapangan. “BBM naik, harga material juga naik. Kalau dipaksakan sekarang, belum tentu penyedia sanggup mengerjakan maksimal,” jelasnya.
Untuk itu, DPUPR memilih lebih selektif menentukan titik pengerjaan agar kualitas proyek tetap terjaga meski dengan anggaran terbatas. “Kita lebih baik sedikit tapi maksimal daripada semua jalan tapi hasilnya tidak bagus,” pungkasnya. (Srn)

