Curhat Dokter Badi: Ternyata Banyak yang Bisa Hamil Tanpa Disentuh Laki-laki

Selalu ada cerita baru setiap kali saya bermain golf bersama dr. Fakhruzzabadi, M.Kes., Sp.OG. Dokter kandungan yang lebih dikenal warga Bontang dengan sapaan dokter Badi itu belakangan memang cukup viral di TikTok lewat video-video edukasinya yang spontan dan sering menyentil realita di lapangan.

Senin (1/6) sore tadi, saat kami bermain di Lapangan Golf Badak Bontang (BGB), cerita yang keluar dari mulut dokter Badi terasa jauh lebih berat dari biasanya.

Dalam dua minggu terakhir, dokter spesialis kandungan dan kebidanan itu mengaku sudah membantu tiga persalinan anak usia belasan tahun. Salah satunya bahkan baru berusia 15 tahun.

Yang membuatnya makin prihatin, pola kasusnya hampir sama. Bahkan wilayah tempat tinggal para pasien tersebut juga hampir serupa.

“Ini saya baru dari rumah sakit nolong persalinan anak umur 15 tahun,” ujarnya membuka cerita.

Obrolan itu kemudian mengalir panjang di sela permainan golf. Dokter Badi mengaku kegelisahan tersebut juga ia sampaikan melalui akun TikTok pribadinya sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat dan para orang tua.

Menurutnya, hampir semua kasus datang dengan cerita yang mirip. Anak-anak tersebut dibawa ke UGD dengan keluhan nyeri perut hebat. Orang tua yang mengantar bahkan tidak mengetahui bahwa anak mereka sedang hamil.

Baru setelah diperiksa dokter, diketahui mereka sudah memasuki proses persalinan.

Yang membuatnya makin prihatin, sebagian besar anak-anak itu tetap tidak mengaku pernah melakukan hubungan seksual meski kondisi kehamilan sudah jelas terlihat.

“Ditanya berulang-ulang pun mereka tidak mengakui,” katanya.

Dokter Badi bahkan sempat melontarkan sindiran satir. “Ternyata di Bontang ini banyak yang tanpa disentuh lelaki bisa hamil,” ujarnya.

PHOTO 2026 06 01 20 53 21
dr. Fakhruzzabadi, M.Kes., Sp.OG atau dokter Badi saat menyampaikan keresahannya soal meningkatnya kasus anak usia belasan tahun yang melahirkan di Kota Bontang. Foto: TikTok/@dokterbadi

Kalimat itu memang terdengar menyindir. Tapi di balik itu, ada kekhawatiran besar yang sebenarnya ingin ia sampaikan. Persoalannya bukan lagi sekadar soal pengakuan atau kenakalan remaja biasa. Yang terlihat sekarang, menurutnya, sudah masuk tahap yang mengkhawatirkan.

Yang jauh lebih memprihatinkan adalah dampaknya terhadap bayi yang dilahirkan. Dalam dua minggu terakhir, dari tiga bayi yang lahir itu, seluruhnya mengalami berat badan lahir rendah. Dua bayi berhasil diselamatkan karena berat badannya masih sekitar dua kilogram.

Sementara satu bayi lainnya tidak berhasil bertahan hidup karena lahir terlalu kecil dan prematur. “Yang satu tidak selamat karena ekstrem kecil,” ungkapnya.

Apa yang disampaikan dokter Badi sebenarnya bukan cerita baru di Bontang. Data Pengadilan Agama Bontang menunjukkan mayoritas permohonan dispensasi nikah setiap tahun masih didominasi kehamilan di luar nikah pada usia anak. Bahkan, sebagian kasus melibatkan pelajar yang masih duduk di bangku SMP.

Kasus seperti ini memang jarang muncul ke publik. Tapi faktanya terus terjadi. Muncul di ruang UGD, ruang bersalin, hingga sidang dispensasi nikah.

Menurut dokter Badi, persoalan ini tidak bisa hanya dianggap sebagai masalah moral semata. Dampaknya panjang, terutama terhadap kesehatan bayi yang dilahirkan dan masa depan anak-anak itu sendiri.

Ia menyoroti hampir semua bayi yang lahir dari kehamilan usia anak mengalami berat badan lahir rendah. Kondisi itu menjadi salah satu faktor risiko stunting di kemudian hari.

“Pemerintah sekarang lagi gencar melawan stunting. Tapi di lapangan masih banyak bayi lahir prematur dan berat badan rendah dari kehamilan usia anak,” katanya.

Dokter Badi menjelaskan, sebagian besar remaja yang hamil tidak memahami cara menjaga kehamilan dengan baik. Banyak yang tidak pernah memeriksakan kandungan, tidak minum vitamin, bahkan tidak siap secara mental menjadi ibu.

Akibatnya, bayi lahir dalam kondisi tidak ideal. Setelah melahirkan pun, pengasuhan sering kali akhirnya dibebankan kepada keluarga karena ibunya sendiri masih tergolong anak-anak.

Cerita seperti ini seharusnya menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Orang tua, hari ini tidak cukup hanya memastikan anak berangkat sekolah, memberi uang jajan, membelikan handphone, atau kendaraan.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan mereka tidak kehilangan arah dalam pergaulan dan lingkungan sosialnya.

Komunikasi di rumah juga tidak bisa lagi sekadar soal nilai sekolah atau pulang jam berapa. Orang tua harus mulai berani membangun percakapan terbuka dengan anak-anaknya. Termasuk soal pergaulan, media sosial, hingga pendidikan reproduksi yang selama ini masih sering dianggap tabu.

Di sisi lain, pemerintah juga tidak bisa hanya fokus pada penanganan stunting ketika bayi sudah lahir. Pencegahan harus dimulai dari hulunya. Edukasi kesehatan reproduksi di sekolah perlu diperkuat.

Pendampingan remaja harus lebih nyata. Lingkungan RT, sekolah, tokoh masyarakat, hingga fasilitas publik yang menjadi tempat berkumpul anak muda juga perlu mendapat perhatian lebih serius.

Karena kalau kondisi seperti ini terus dianggap biasa, yang hilang bukan hanya masa depan anak-anak itu sendiri, tetapi juga kualitas generasi yang akan datang. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

BERITA POPULER