BERAU — Tingginya intensitas banjir yang melanda Kabupaten Berau, khususnya di Kecamatan Sambaliung, Kelay, dan Segah, memaksa lebih dari 800 jiwa dari hampir 300 kepala keluarga mengungsi.
Ketinggian air yang mencapai lima meter merendam rumah warga hingga ke atap dan menyebabkan kerusakan parah pada berbagai fasilitas umum, termasuk sekolah, puskesmas, tempat ibadah, serta kantor kampung.
Situasi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah. Anggota DPRD Berau, Sakirman, menyatakan bahwa relokasi kampung dari wilayah rawan banjir ke lokasi yang lebih aman merupakan solusi jangka panjang yang mendesak.
“Ini bukan sekadar pemindahan fisik, tapi langkah untuk menyelamatkan kehidupan dan masa depan masyarakat,” ujar Sakirman.
Ia menambahkan bahwa banjir yang terus berulang semakin diperparah oleh kerusakan lingkungan dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali.
Menurutnya, program relokasi harus dirancang secara menyeluruh dan berkelanjutan, mencakup aspek sosial, ekonomi, budaya, hingga tata ruang.
Sakirman mendorong pemerintah daerah untuk segera mengalokasikan anggaran khusus dalam APBD serta mencari dukungan dari pemerintah pusat dan mitra pembangunan.
“Anggaran ini harus mencakup pembangunan infrastruktur baru, penyediaan fasilitas umum, dan program pemberdayaan ekonomi warga di lokasi relokasi,” tegasnya.
Ia pun mengakui bahwa proses relokasi bukan hal yang mudah. Namun, jika dirancang secara matang dan melibatkan partisipasi masyarakat sejak tahap perencanaan, langkah ini diyakini bisa menjadi solusi nyata untuk mengakhiri siklus bencana banjir yang menahun di Kabupaten Berau.
“Kami meminta Pemerintah daerah segera mengambil tindakan konkret guna mengantisipasi dampak lanjutan dari bencana ini, serta menjamin hak dan keselamatan para warga terdampak,” tandasnya. (ril/dez)
Reporter: Aril Syahrulsyah
Editor: Dezwan

