BERAU – Ancaman kekeringan akibat El Nino mulai direspons serius oleh Pemerintah Kabupaten Berau. Langkah antisipatif langsung dipacu dengan mengamankan ketersediaan air untuk menjaga produksi pangan tetap stabil. Upaya ini ditunjukkan melalui koordinasi intensif dengan Kementerian Pertanian RI.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, bahkan secara langsung menyampaikan kebutuhan mendesak daerah dalam dialog bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Dalam pertemuan tersebut, Pemkab Berau menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur air untuk menopang lahan persawahan yang rentan terdampak musim kering.
Berbagai skema bantuan pun diajukan, mulai dari pembangunan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, embung, dam parit, hingga pemeliharaan jaringan irigasi yang sudah ada. “Evaluasi sumber air menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Ini menyangkut keberlangsungan produksi padi kita,” ujar Lita.
Di Berau, kata dia, setidaknya ada empat kecamatan yang masuk radar prioritas. Wilayah Teluk Bayur, Gunung Tabur, Tabalar, dan Sambaliung dinilai memiliki potensi pertanian besar, namun sekaligus menghadapi risiko kekeringan cukup tinggi saat puncak kemarau.
Saat ini, usulan bantuan tersebut masih dalam tahap verifikasi teknis oleh pemerintah pusat. Hasil verifikasi akan menentukan percepatan realisasi pembangunan infrastruktur air di daerah. “Usulan sudah kami sampaikan, tinggal menunggu proses verifikasi dari pusat,” pungkasnya. (Srn)

