BERAU – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Berau memilih strategi pemeliharaan jalan yang lebih cepat dan efisien sepanjang tahun 2026.
Melalui Bidang Preservasi Jalan dan Jembatan, penanganan difokuskan pada perbaikan titik-titik kerusakan atau spot repair dengan metode penambalan lubang, sehingga kondisi jalan kabupaten tetap mantap dan aman dilalui masyarakat.
Langkah tersebut menjadi pilihan untuk menjaga mobilitas warga tanpa harus menunggu proyek peningkatan jalan berskala besar yang membutuhkan proses perencanaan dan anggaran lebih panjang.
Kepala Bidang Preservasi Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Berau, Junaidi, mengatakan hingga pertengahan tahun ini Tim Reaksi Cepat (TRC) masih melakukan rekapitulasi jumlah titik kerusakan yang telah berhasil ditangani sejak Januari 2026.
“Kami berfokus pada penekanan titik kerusakan atau penambalan lubang. Saat ini Tim Reaksi Cepat sedang merekapitulasi total titik yang sudah ditutup sejak Januari hingga pertengahan tahun ini,” ujarnya.
Menurutnya, pola penanganan tersebut tidak hanya diterapkan di kawasan perkotaan. Perbaikan juga menyasar ruas-ruas jalan kabupaten yang berada di wilayah pesisir maupun pedalaman agar konektivitas antarkampung tetap terjaga.
Beberapa lokasi yang telah mendapat penanganan antara lain kawasan Sambaliung, ruas Samburakat–Sebakungan, kawasan Tumbit, Talisayan, Biduk-Biduk hingga Kampung Pulau Besing. Seluruh pekerjaan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi lapangan, akses menuju lokasi, serta ketersediaan material.
“Penanganan ini tersebar sepanjang tahun di lokasi-lokasi yang dapat dijangkau dan didukung oleh ketersediaan material di lapangan,” katanya.
Junaidi menjelaskan, metode penambalan dipilih karena dinilai paling efektif dalam mendukung program pemeliharaan rutin. Selain mampu menghemat penggunaan material, cara tersebut juga memungkinkan lebih banyak titik kerusakan tertangani dalam satu tahun anggaran.
Pihaknya memanfaatkan material aspal dingin (cold mix) yang dikemas dalam kantong sehingga lebih praktis digunakan untuk menutup lubang-lubang jalan. Dengan pola tersebut, stok material dapat dimanfaatkan secara optimal hingga akhir tahun.
“Pengerjaan TRC ini sifatnya pemeliharaan rutin, bukan untuk kerusakan menerus. Jika kita hampar panjang atau overlay, stok material pemeliharaan tidak akan cukup sampai akhir tahun,” jelasnya.
Selain itu, metode spot repair dinilai sesuai dengan karakteristik sebagian besar jalan kabupaten yang memiliki volume kendaraan tidak terlalu tinggi. Karena itu, penambalan lubang mampu mempertahankan fungsi jalan sekaligus mencegah kerusakan meluas.
Meski demikian, Junaidi menegaskan bahwa kerusakan jalan dengan tingkat keparahan tinggi tetap memerlukan penanganan melalui proyek peningkatan atau rehabilitasi. Proses tersebut harus melalui tahapan perencanaan, mulai dari penyusunan usulan di Bapelitbang, penyusunan Rencana Kerja (Renja), hingga penganggaran yang dapat memakan waktu enam bulan sampai satu tahun.
Sementara itu, kerusakan ringan berupa lubang-lubang kecil dapat langsung diusulkan masyarakat kepada Dinas PUPR. Setelah laporan diterima, Tim Reaksi Cepat akan melakukan survei lapangan untuk memastikan kondisi kerusakan sebelum pekerjaan dilakukan.
“Jika kondisinya berupa lubang-lubang spot-spot, setelah cek lokasi dan material serta personel siap, kami langsung kerjakan. Jadi masyarakat tidak perlu menunggu berbulan-bulan untuk perbaikan,” tegasnya.
Saat ini, Dinas PUPR Berau juga tengah menyusun dokumentasi lengkap seluruh kegiatan pemeliharaan jalan yang telah dilaksanakan selama 2026.
“Pendataan tersebut mencakup riwayat pekerjaan beserta jumlah titik yang telah diperbaiki sebagai bentuk transparansi kinerja sekaligus bahan evaluasi dalam menjaga kemantapan jalan kabupaten di Bumi Batiwakkal,” pungkasnya.

