Berau Pertahankan Hutan dan Laut, Dua Dekade Kolaborasi Konservasi Bersama YKAN

BERAU — Upaya pelestarian lingkungan di Kabupaten Berau terus menunjukkan hasil nyata. Selama lebih dari dua dekade, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menjalin kemitraan strategis dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk menjaga kekayaan alam darat dan laut Bumi Batiwakkal.

Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, menyampaikan bahwa sekitar 75 persen wilayah daratan Berau masih berupa hutan alam, menjadikannya salah satu benteng terakhir ekosistem hutan tropis Kalimantan.

“Di sisi kelautan, Berau ada di kawasan segitiga karang dunia dan menjadi jantung bentang alam Sulu Sulawesi dengan keanekaragaman hayati laut terbesar kedua di dunia,” ujarnya.

Disebutnya, sejak tahun 2002, kemitraan Pemkab Berau dan YKAN yang sebelumnya beroperasi sebagai The Nature Conservancy/TNC telah melahirkan beragam program konservasi, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat.

Salah satu capaian penting dari kolaborasi lima tahun terakhir adalah keberhasilan 77 kampung dan dua kelurahan di Berau memperoleh dana sebesar Rp349,1 juta dari Bank Dunia melalui program Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF–CF). Selain itu, lanjutnya, 15 kelompok masyarakat hutan juga mendapat dukungan pendanaan antara Rp50 juta hingga Rp70 juta per kelompok.

“Program ini mendukung penurunan emisi di tingkat tapak dan mengapresiasi komitmen Pemkab Berau dalam memberi peran langsung kepada masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk hak kelola hutan,” jelasnya.

Hingga kini, sebanyak 31 kelompok masyarakat telah memperoleh hak kelola Perhutanan Sosial dengan total luas 106 ribu hektare, capaian tertinggi di Kaltim. Berau bahkan dinobatkan sebagai kabupaten terbaik tingkat nasional dalam mendukung program Perhutanan Sosial pada Festival Perhutanan Sosial Nasional (PeSoNa) 2025.

Lebih lanjut, YKAN bersama Pemkab Berau juga mengembangkan Akademi SIGAP untuk membantu kelompok masyarakat mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah, seperti cokelat batangan, amplang, terasi, ikan dan udang kering, serta kerajinan rotan dan batik mangrove.

“Di sektor kelautan, kami turut mendukung pembentukan UPTD Kawasan Konservasi Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya, yang kini menjadi garda depan pengelolaan wilayah laut Berau,” pungkasnya. (srn/dez)

Reporter: Aril Syahrulsyah
Editor: Dezwan

BERITA POPULER